Nilai, bagian dari intangible heritage…

Posted on Updated on


Nilai

Nilai, ragam maknanya, jika menengok kamus bahasa Indonesia mengandung terminologi

“harga dalam arti taksiran harga; harga sesuatu; angka kependalaman; kadar; mutu; banyak sedikitnya isi”.

Bagaimana jika kita membicarakan dan sedikit menganalisa mengenai nilai-nilai yang ada di sosial kemasyarakatan terutama di kawasan heritage, apakah juga mengandung pengertian yang sama? Jika kita asumsikan nilai di sosial kemasyarakatan merupakan harga sesuatu yang ada di masyarakat setempat maka akan lebih condong ke arah norma-norma, tata krama, aturan adat istiadat, dan sebagainya.

Terkadang nilai tersebut hadir tanpa kita sadari. Nilai sosial seperti norma, tata krama, aturan adat istiadat biasanya mengatur tentang sesuatu yang baik dan buruk di lingkungan masyarakat dan ini juga dapat berupa tradisi secara turun temurun dari nenek moyang, bahkan mungkin hal tersebut juga merupakan budaya masyarakat yang harus tetap dilakukan. Jadi nilai mungkin juga merupakan sesuatu budaya yang abstrak/ non bendawi/ intangible tetapi sudah beredar dan menjadi tolok ukur kegiatan positif masyarakat.

 

Transformasi Nilai

Searah dengan perkembangan teknologi dan informasi yang serba cepat disadari atau tidak, nilai sosial secara perlahan-lahan mengalami transformasi dan bahkan nilai sosial lama cenderung hilang dan muncul nilai sosial terkini. Kecenderungan tersebut juga dapat dipengaruhi oleh posisi administrasi wilayah yang sangat dekat dengan kemapanan modern, sebut saja misalnya wilayah sub urban.

Keinginan untuk menolak gaya hidup modern masyarakat sub urban tidak terelakan seiring dengan meningkatnya sumber daya manusia yang memicu tingkat perekonomian dan melonjaknya kebutuhan hidup. Sebenarnya hal itu wajar, permasalahannya adalah nilai sosial yang luntur, berubah atau hilang tersebut adalah nilai sosial di kawasan pusaka. Jika nilai-nilai yang ada di masyarakat kawasan pusaka tidak dilestarikan dan dibiarkan hilang bagaimana dengan obyek-obyek pusakanya, siapa yang akan melestarikannya.

Tatanan nilai menjadi kabur akan sikap hedonisme dan kekinian yang sering disebut sebagai tuntutan jaman modern. Nilai menjadi absurb dan bias. Bicara mengenai pergeseran nilai, hantaman budaya di perkotaan relative lebih besar. Ketika keinginan bergeser menjadi kebutuhan, dan kebutuhan menjadi keseharian hidup, masyarakat kota pun merasa harus memenuhinya. Seolah-olah waktu semakin sempit dan menjadikan hal paling praktis menjadi tujuan. Praktis adalah yang terbaik.

 

Nilai Sosial Terkini

Transformasi nilai sosial dapat dilihat dan dirasakan dari berbagai aspek kehidupan yang dinamis. Misalnya adalah tata krama, tidak ada literatur yang memuat tata krama (dalam hal ini Jawa), tata krama diajarkan secara turun temurun. Orang Jawa jika lewat diantara orang pasti akan memberikan salam, nyuwun sewu.. nderek langkung. Tingkat kehalusan bahasanya pun juga disesuaikan dengan ‘umur’ orang yang dihadapinya, semakin tua akan semakin halus bahasanya sebagai wujud penghargaan yang abstrak.

Biang keladi semua itu bukanlah bahasa. Bahasa sekedar penyampai pikiran. Rendahnya penghargaan dan tuntutan akan kepatuhan pada nilai lah yang mempercepat pergeseran saat ini.

Nilai rupiah dana bantuan lebih dihargai dari pada proses yang melelahkan dalam bungkusan rembug dan bermuara pada pemberdayaan. Orang mulai tidak tertarik untuk kumpul-kumpul, menanyakan kabar, belajar bersama, merencanakan dan berbuat sesuatu untuk kebaikan bersama. Tidak sabar, tergesa-gesa dan praktis.

Apa yang terjadi dengan nilai terkini, walaupun tidak semua masyarakat berubah tetapi perubahan dapat dijumpai misalnya sekarang ini jika seseorang lewat diantara kerumunan orang lain, cenderung diam saja, cuek, tanpa tegur sapa, kadang ada yang menegur tetapi bahasanya lebih gaul, “mit ya bos…” dan mungkin masih banyak lagi contoh lunturnya nilai selain dari tata krama.

Nilai dan Arsitektur Perilaku

Disadari atau tidak dampak dari perubahan nilai sosial yang abstrak tersebut dapat mengubah wujud atau fisik benda atau bangunan sesuai perubahan nilai yang dianutnya. Nilai mengubah perilaku manusia dan lingkungan tempat hidup manusia, perubahan tersebut akibat perilaku yang didasari dari nilai yang ada.

Dapat diambil contoh kawasan pusaka Kotagede yang cenderung sub urban, pengaruh modernisasi sangat kuat mulai dari teknologi, gaya hidup, bangunan serba modern kecenderungan masyarakat setempat untuk merenovasi rumah joglo menjadi rumah modern sangat kuat, tanpa basa basi akhirnya langgam bangunan pun berubah menjadi bangunan kontemporer atau dirubah sesuai dengan gaya-gaya yang disukai saat itu dan dicampuradukan dalam satu desain langgam (kecenderungan ekletisme).

Perubahan nilai yang akhirnya memicu perilaku manusia untuk mengubah lingkungan huniannya terkadang akan menimbulkan ketidakselarasan harmoni dan menjurus ke kesemrawutan visual. Keselarasan antar bangunan perlu dijaga dan diatur agar tidak mengubah ciri khas langgam dan citra suatu kawasan yang telah teridentikkan.

Sampai dimana CSP (community settlement plan) kita atas nilai-nilai tadi?


-tulisan bersama YP Erick, ST. (Ass. Urban Planner di ReKOMPAK diy)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s