Resilient, Adaptif atau Resisten terhadap bencana?

Posted on Updated on


Isu bencana alam telah menjadi tren yg tiada habisnya mengingat kondisi geografis kita di Indonesia. Sebuah pemikiran yang menggelitik dan mungkin menjadi pertanyaan bersama. Bahwa, bencana boleh sering terjadi tetapi bagaimana kita selalu siap, terkena dampak minimal, atau akibat dampak yang minimal. Belajar dari banyak kasus, sebenarnya di tingkat komunitas kita sadar atau tanpa sadar terbentuk ketahanan terhadap bencana. Ketahanan (resilient) yang terbentuk secara natural menjadikan mereka ‘kuat’ dalam setiap menghadapi bencana.

Sebagai contoh, sebagian masyarakat Gunungkidul mengalami kekeringan yang hebat di musim kemarau. Mereka tahu bakal selalu terjadi, dan selalu dapat bertahan. Mereka mengeluarkan sejumlah uang untuk membeli air, bagi yang mampu. Atau berjalan berkilo-kilo untuk mengambil air. Toh dapat juga bertahan hidup. Antara terpaksa, dan bertahan.

Dengan contoh kasus diatas, penduduk tersebut tahan bencana (resilient) atau sedang melawan bencana (resistant) atau sebenarnya mereka beradaptasi? Antara TAHAN, RESISTEN dan ADAPTIF. Apa bedanya?
Mohon masukan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s