Kritisi Rumus PRB (1)

Posted on Updated on


Pernah bertemu rumus Pengurangan Resiko Bencana (PRB) ini?


Menurut saya, rumus ini bukan rumus PRB dan atau rumus menghitung Risiko Bencana. Namun jika mau dipaksakan bisa bisa saja. Yang perlu dipahamkan disini adalah hubungan antar faktor penentu risiko bencana. ‘Rumus’ ini adalah pendekatan berfikirnya saja. Sedangkan jika diterapkan secara matematis tentusaja harus disertai dengan argumentasi yang lebih kuat dan lengkap. Faktor terpaan dan ketahanan belum masuk disana.

Pada beberapa kasus saya pernah menemui rumus ini dipakai dengan perbandingan yang sama (faktor: 1). Sehingga nilai kerentanan sebanding dengan bahaya, bagaimana jika terjadi jika bahaya 2x lebih besar energi dan kecepatannya?

PRB adalah Whats Next After The Risk Assesment? Lebih kompleks. Mengenai rumus ini pun saya belum setuju. Coba lihat, misalnya ada masyarakat yang tinggal disuatu kawasan dengan kondisi seperti ini:

  • Permukiman yang tinggal di 50 meter kanan kiri sungai–> vulnerability tinggi
  • Sungai sering banjir–> hazardnya juga tinggi

Jika dinilai dengan rumus diatas, PASTI risikonya tinggi. Tetapi lihat beberapa faktor ini :

  • Ternyata masyarakatnya memiliki rumah panggung diatas rata-rata banjir biasanya
  • Ternyata ada EWS yang dapat memberikan informasi cepat jika banjir, sehingga masyarakat cepat mengungsi.

Apa masyarakat tadi masih memiliki Risiko Tinggi? Ada faktor yang belum muncul yaitu Ketahanan bencana. Bagaimana menurut Anda? mari berdiskusi..

 

ajiek darminto l ajiekdarminto@gmail.com

 

 

 

7 thoughts on “Kritisi Rumus PRB (1)

    Indah Parmalia said:
    20/01/2009 pukul 8:01 pm

    nahh, kemaren aku liat rumus ini,,apa munkin pengurangan nya maksudnya sebesar resiko..?
    hah,, makin bingung..hohho

    eka rianta s said:
    21/01/2009 pukul 3:41 pm

    Rumus itu sebenarnya belum komplet.

    kerentanan x bahaya

    Resiko = —————————–

    Kapasitas

    jadi resiko berbanding lurus dengan besarnya kerentanan dan besarnya bahaya namun berbanding terbalik dengan kapasitas

    salam

    eka

    adjiepamungkas said:
    22/01/2009 pukul 6:44 am

    saya pikir, rumus adalah penyederhaan realitas. jadi sebagai awalan rumus PRB itu sangat baik sekali. walaupun demikian, perlu difikirkan bahwa menilai resiko itu selalu diikatkan pada komunitas yang terancam. menurut saya, sifat komunitas itu dinamis… sehingga kerentanan (dan termasuk capacity) nya juga dinamis. akhirnya, penilaian resiko seharusnya dinamis juga. rumus PRB lebih bersifat linear exponential dan itu kurang realistis. kalo ditulis risk = f(vulnerability, hazard, capacity) mungkin bisa lebih dipahami.
    salam,
    adjie

    ajiekdarminto responded:
    22/01/2009 pukul 6:57 am

    @Indah Parmalia
    Kajian mengenai bencana di Indonesia memang mengemuka belakangan ini (setidaknya sejak Aceh akhir 2004). Setiap wacana pasti memiliki kelebihan masing-masing. Saya disini sebenarnya ingin mengajak kritis atas beberapa pendapat yang sudah ada. Judulnya aja Kritisi… saya akan menulis pada kritisi (3).

    @Eka Rianta
    Pa kbr mas Tepu. Benar sekali pendapat njenengan itu rumus yang sering dipake temen2 UNDP. Yang ingin saya sampaikan dalam tulisan singkat soal kritisi (1) ini sebenernya, ada faktor yang luput dari ‘perhitungan’, yaitu kapasitas/kamampuan/ketahanan.

    @adjiepamungkas
    Salam kenal mas. Ya. Memang sebenernya saya ingin juga membawa pada logika berfikir. Untuk fungsi dan faktor yang bekerja atas Risk mamang benar, senada dengan yang disampaikan mas tepu. Tetapi untuk membawa pada logika atas hubungan antar faktor tadi, kayanya perlu ‘rumus’. Walaupun saya belum sependapat dengan penggunaan ‘rumus’ tadi dalam konteks matematis. Saya menerima sebagai kerangka pikir/logika. Terima kasih atas kritisinya.

    eka rianta said:
    23/01/2009 pukul 12:09 pm

    Khabar baik aja Djik.. kabar kamu masih kuliah ya? atau udah kerja? atau dua-duanya?

    saya ingin berbagi pengalaman dengan penerapan rumus itu.
    saya pernah menerapkan rumus itu untuk memetakan resiko bermacam bahaya di 3 kelurahan di Jakarta. yaitu Kampung Melayu, cipinang Besar Utara dan Penjaringan.
    Maksud dari rumus itu tidak mutlak harus perkalian atau pembagian, namun berbanding lurus dan berbanding terbalik, itu yang sebenarnya bisa dipakai dalam kajian yang pernah saya lakukan selama kurang lebih 10 bulan.
    Jadi saya menilai resiko itu berbanding lurus dengan besarnya kerentanan dan besarnya bahaya dan berbanding terbalik dengan kapasitas.
    Dan saya menjabarkannya dalam perhitungan skoring yang mengandung pengharkatan dan pembobotan tiap-tiap paramater/variabel dari ketiga unsur (Bahaya, Kerentanan dan Kapasitas). Dalam perhitungan itu saya tidak mengalikan atau membagi diantara ketiganya namun menambah dan menguranginya. Karena jika mengalikan atau membaginya maka hasil penilaian akan mempunyai distorsi yang besar.

    untuk lebih lengkap dapat dibaca di site berikut:

    http://acfdpjkt-eng.blogspot.com/2007/04/multi-risk-mapping.html

    atau dalam bahasa indonesia :

    http://acfdpjkt-bhs.blogspot.com/2007/04/multi-risk-mapping.html

    salam

    eka
    OCSP-USAID

    ajiekdarminto responded:
    28/01/2009 pukul 12:28 am

    Saya sudah baca Mas Tepu.Matur nuwun banget, dan sip. Kalo dibuat tambah-kurang, berarti range-nya cukup pendek ya mas. Klasifikasinya seperti apa tuh. Mungkin akan lebih menarik jika ada contoh perhitungan dan analisa PRBnya. Soal me’rumus’kan ini menarik juga. Komponen yang ada mestinya masih diurai lagi khan? Bisa di share mas? Untuk disaster ini memang sudah lintas keilmuan. Unsur kepakaran main disini. Terima kasih bacaanya mas, ada lagi nggak? Kebetulan aku tertarik untuk hal ini.

    Kritisi Rumus PRB (3) « Just ajiek! said:
    02/02/2009 pukul 6:46 am

    […] assasment dalam ‘rumus’ PRB yang saya sampaikan dalam tulisan pertama (Kritisi Rumus PRB 1), tetap belum bisa dianggap sebagai rumus PRB. Rumus tersebut adalah penalaran logis yang muncul […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s