Layout Peta

Posted on Updated on


Add an Image

Hari Senin (5/01/09) yang lalu, ketika pertemuan dengan beberapa Tim Inti Perencana (TIP) Kelurahan Patehan, saya ditanya oleh Pak Taryoko (anggota TIP), “Mas, ini petanya sudah bener apa belum?”. Wee lah. Sebenernya yang tanggungjawab kan urban planner. Mestinya konsepnya sudah nyampe dari pak TA.

Tak jawab pelan-pelan sambil tak keluarin ilmu ‘simpanan’. (halah). Walaupun ada yang kurang, tapi biar TIP sendiri yang koreksi dan tidak berani menyalahkan. Kalau mampu dibuat ideal yang ya lebih bagus, tapi kalo enggak ya mendekati lah. Hanya kasih gambaran, dan pelengkap dari yang sudah disampaikan pak TA lewat asisten urban planner (mas erick). Saya coba orek-orek aja di kertas buat nglengkapi.

Add an Image

    1. Judul Peta, lebih dominan dari nama Kelurahan. Tujuannya adalah memberikan identitas yang menonjol atas tema yang dimaksud. Yang sering dijumpai di lapangan adalah nama kelurahan/desa lebih menonjol dari pada judul itu sendiri.
    2. Legenda, hampir semua peta yang disusun telah memiliki legenda namun belum teratur. Secara substantif dalam penyusunan legenda hendaknya disusun berdasarkan urutan: titik, baru garis, baru area.
      1. Informasi titik seperti: kantor-kantor (kecamatan, kelurahan, pos, polisi), tempat ibadah (gereja, masjid, pura), sekolah,
      2. Informasi garis seperti, batas desa, batas kecamatan, jalan (jalan kampung, jalan setapak, jalan, sungai, jaringan irigasi, jaringan drainase, jaringan telpon.
      3. Informasi area, misalnya danau, genangan, sultan ground, area/kawasan, lapangan
      4. Jika merujuk pada simbol baku, maka dapat menggunakan Lampiran PP no 10 tahun 2000 mengenai simbolisasi peta yang telah dikoreksi oleh Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) tahun 2003. Kalo jalan itu ya… merah, kalo badan air/sungai itu biru dan lain sebagainya. Universal. Simbolisasi tadi sudah diperhitungkan mengenai korelasi skala peta, ukuran dan jenis simbol. Kalo warna simbol atau bukan hayoo..?
    3. Orientasi, menunjukkan arah mata angin. Arah utara selalu berada pada sisi atas peta. Entah kesepakatan dari mana, tetapi lazim, dan hampir semua peta menggunakan utara pada bagian atas. Hal in penting untuk menentukan posisi suatu titik terhadap titik yang lain misal sebelah barat-nya, timur-nya, dsb.
    4. Skala peta. Sering dijumpai dilapangan bahwa peta yang ada masih menggunakan skala numerik. Hal ini memiliki kelemahan. Setidaknya terdapat dua jenis pen-skala-an: Skala numerik. Misalnya 1:20.000, artinya 1 cm di peta sebanding 20.000 cm di lapangan. Skala jenis ini memiliki kelemahan saat peta diperbesar atau diperkecil. Ukuran peta mengecil/membesar sementara skala tetap. Menurut saya, skala skala numerik hampir tidak cukup operasional, mengingat dokumen yang tidak sama ukurannya. Dengan demikian, secara substantif tidak mendukung informasi dari peta-peta RPP. Dan Skala garis. Skala ini jarang ditemui dilapangan. Skala ini lebih operasional. Skala peta akan menyesuaikan jika diperbesar atau diperkecil. Secara kartografis skala ini lebih presisi. Permasalahan yang ada adalah bagaimana membuat skala garis tanpa ada skala numerik sebelumnya. Yang dapat dilakukan adalah: (a) Ukur atau cari informasi jarak salah satu ruas jalan yang sudah diketahui secara pasti di lapangan. (b) Ukur jarak ruas tersebut dalam peta. Perbandingkan antara jarak dalam peta terhadap jarak ruas jalan tersebut dalam satuan yang sama. Misal 4cm : 200m –> 4:2000 –> 1:500. Kemudian pindahkan dalam bentuk garis dengan ruas 1 cm. Tentusaja hal ini mudah bagi yang bisa, namun belum tentu pada tingkat fasilitator dan lapangan. Mestinya si-Faskel sudah dibekali kan?
    5. Batas wilayah dan wilayah sekitar. Boundary batas desa penting untuk menunjukkan batas wilayah kajian. Kemudian dilengkapi dengan kelurahan/kecamatan yang berbatasan langsung desa/kel tersebut.
    6. Sumber peta, menunjuk sumber dari peta yang sudah dipakai. Misal, (1) Peta dasar Kelurahan Patehan, 2006. (2) Pemetaan Swadaya Kelurahan Patehan Kec. Kraton Kota Yogyakarta, 2008. Tujuannya adalah mengetahui riwayat peta yang dibuat.
    7. Penyusun/Dibuat oleh:, menunjuk pembuat peta. Misal: TIP Kelurahan Patehan, Kec. Kraton, 2008. Bisa digunakan klaim sekaligus menunjukkan reputasi
    8. Toponimi. Istilah untuk penamaan suatu titik/area misal berupa nama jalan, nama RW/dusun, nama sungai, Alun-alun dan wilayah sebelahnya. Kelengkapan suatu peta ditujukan untuk memberikan informasi yang jelas mengenai peta dimaksud. Sehingga pembaca peta dapat memperoleh informasi dalam satu lembar peta yang sedang dibaca. Fungsi kedua adalah, jika peta tersebut terlepas dari dokumen perencanaan, masih dapat dibaca. Bukan untuk mempersulit.

Simbol yang benar, tataletak serta kelengkapan informasi yang disampaikan, memberikan pembelajaran membuat peta yang benar. Sehingga meminimalisasi perubahan dan koreksi dikemudian hari. Semoga Bermanfaat

Kalau untuk tujuan yang lebih luas, hal berikut perlu ditambahkan:

  1. Grid. Menunjukkan posisi lintang bujur atau koordinat dari peta tadi. Jadi kalau masing masing peta terdapat grid standar (bisa geografis, bisa UTM) dapat menunjukkan posisinya terhadap lokasi lain di muka bumi ini. Peta yang bersebelahan dapat digabungkan dengan lebih mudah. Untuk penggunaan peta digital melalui software ArcView 3.x atau ArcGIS 9.x sangat mudah untuk ditambahkan.
  2. Inzert. Menunjukkan posisi peta terhadap skala yang lebih luas. Misal peta kelurahan patehan tadi terhadap Kota Yogya, Kota Yogya terhadap Provinsi DIY, Provinsi DIY dalam Indonesia.


Bagaimana menatanya? Pada prinsipnya ilmu peta (cartography) itu adalah gabungan antara seni dan teknik perpetaan. Landscape atau portrait, tergantung bentuk peta. Tapi ya.. judul kalau bisa diatas agar mudah dibaca.. disusul legenda. Orientasi dan skala bisa menyesuaikan. Sumber dan pembuat biasanya dipaling bawah. Lihat sudah wangun pa belum. Selamat dipraktekkan dan moga berguna. Kadang saya berfikir, mungkin kalau masyarakat dibiarkan bikin peta apa adanya, mungkin itu lebih pemberdayaan, original dan tanpa intervensi. Tapi kemudian saya berfikir kembali, itu namanya pembiaran. Kapan mereka berdaya kalau tidak dibantu…?

YES Ajiek!

ajiekdarminto.wordpress.com [ajiekdarminto@gmail.com]

bagaimana menurutmu?

5 thoughts on “Layout Peta

    Emma said:
    20/01/2009 pukul 1:23 pm

    Halo mas Ajiek,,,
    Wah artikelnya menarik, boleh nda dijadikan kajian di disertasi? Pak Boby Arsitek kemaren menganjurkan program yg sedang dikerjakan Tim Mas Ajiek sepertinya bisa memberi tambahan wawasan baru utk planning di Jogja.
    Salam.
    Emma

    Emma said:
    20/01/2009 pukul 1:24 pm

    Halo mas Ajiek,,,
    Wah artikelnya menarik, boleh nda dijadikan kajian di disertasi? Salah seorang dosen di Arsitek menganjurkan program yg sedang dikerjakan Tim Mas Ajiek sepertinya bisa memberi tambahan wawasan baru utk planning di Jogja.
    Salam.
    Emma

    ajiekdarminto responded:
    22/01/2009 pukul 5:50 am

    @Emma
    O ya? kebetulan pak boby dulu jadi team konsultan evaluasi projectku. Beliau melakukan penelitian dan memberikan hasil evaluasi ke JRF. Dan pihak donor memberi predikat Very Satisfactory. Project ini terbuka kok buat siapa aja yang mo belajar. Katanya ini pilot dan baru ada pertama di Indonesia. Community Settlement Plan, kalo menurutku kombinasi menarik anatara Comprehensif dan Strategic planning dengan pelibatan masyakat yang kental dengan nilai dan pemberdayaan. Yang menarik sebenernya adalah masyarakat sebagai perencana wilayahnya terutama untuk bencana. Bagaimana men-transfer ilmu sehingga mereka berdaya dan mampu membuat rencana. Kalo dibuat konsultan mah.. emang dah pinter2.. Bagaimana kalo masyarakat yg bikin. Unsur spasial dan participatory akan mewarnai hasil perencanaan. Silakan saja kalo mo ditulis. Sukses Ma. Salam dari tempat yang hangat (jogja)

    Nur Said said:
    11/10/2011 pukul 1:42 pm

    wah,ternyata kang Aji punya blog to.manslap kang inponya,minimal bisa jadi pedoman pembuatan peta,hehe…
    kapan-kapan bisa sharing-sharing inpo lainnya kang,terutama tentang GIS🙂

    Pradana W. Adhitya said:
    01/01/2014 pukul 3:11 pm

    Ok mas ajiek.. makin jelas.. tinggal PNP ke arcgis sy saja.. hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s