Kritisi Rumus PRB (3)

Posted on Updated on


Untuk tema resiko bencana sendiri terdapat setidaknya tiga usulan yang bisa dijadikan kerangka pikir. Banu Subagyo dari UNDP mengungkapkan bahwa bertemunya bahaya dan kerentanan tidak serta merta menimbulkan resiko. Senada dengan beliau tim Bakornas mengungkapkan, adanya unsur kemampuan masyarakat dapat mengurangi resiko bencana. Saya lebih setuju dengan istilah ketahanan. Dengan kata lain, semakin tahan terhadap bencana, maka resiko akan semakin kecil.

logika-prb

Risk assasment dalam ‘rumus’ PRB yang saya sampaikan dalam tulisan pertama (Kritisi Rumus PRB 1), tetap belum bisa dianggap sebagai rumus PRB. Rumus tersebut adalah penalaran logis yang muncul atas sejumlah faktor yang bekerja dalam munculnya resiko bencana. Untuk definisi sebelumnya sudah saya tulis dalam Kritisi Rumus PRB (2). Sebelum dilanjutkan terlalu jauh, saya membatasi tulisan ini dalam kerangka bencana alam.

Bahaya (Hazard)

Saya cenderung, menganggap bahwa bahaya merupakan faktor given. Ada dan tercipta dari alam dan munculnya atas hukum alam. Akan sangat mudah kita memaknai gempa, tsunami (akibat gempa) dan gunung meletus disebabkan oleh alam. Tetapi banjir, sebagian masih menganggap faktor manusia yang menyebabkan banjir.

Coba kita lihat. Banjir terjadi karena meluapnya air pemukaan dari saluran (sungai). Air cukup tinggi namun tidak meluap belum bisa dikatakan banjir. Meluapnya air sungai, bisa jadi terjadi atas dua faktor: curah hujan yang sangat tinggi atau saluran yang dangkal sehingga tidak lagi mampu menampung air dengan volume normal. Pendangkalan pun bisa terjadi karena sedimentasi ataupun sampah.

Berikutnya, terjadinya aliran permukaan karena telah jenuhnya tanah atau sebaliknya, tidak bisa terserap oleh tanah karena faktor fisik bentukan manusia. Misalnya pembangunan villa, betonisasi, aspal dan lain sebagainya. Bahasa mudanya, di daerah resapan air telah terbangun sehingga air tidak meresap namun mengalir di permukaan.

Faktor sampah dan tutupan bangunan ini sering dianggap faktor manusia. Ada benarnya. Tetapi banjir adalah representasi sifat-sifat air, dimana selalu mencari daerah yang lebih rendah. Jumlah air didunia ini adalah tetap. Baik air tanah, air pemukaan maupun air di angkasa. Terminologi dan sifat dasar air ini juga berlaku untuk longsor lahan (grafitasi), angin putting beliung (tekanan udara) dan gelombang tsunami (kinetik).

Menurut saya faktor bahaya lebih bersifat statis dan given.


Kerentanan (Vulnerability)

Kerentanan dalam bahasa mudahnya merupakan terpaan (exposure) bahaya. Jadi daerah permukiman atau sumber penghidupan mana saja yang bersentuhan dengan bahaya. Coba lihat lagi di tulisan sebelumnya mengenai definisi. Munculnya faktor kerentanan dalam logika resiko bencana, adalah untuk mengetaui tingkat kemungkinan kerugian (jiwa maupun material).

Gunung meletus dengan dahsyat tidak akan menjadi bencana jika terjadi di pulau di tengah samudera tak berpenghuni. Longsor besar kubah lava merapi, tidak akan menjadi bencana jika tidak mencapai permukiman.


Ketahanan (Resilient)

Kapasitas, kemampuan dan ketahanan memiliki nuansa arti yang sama. Namun ada pendapat lain mengemukakan bahwa ketahanan lebih luas dari kapasitas. Ketahanan lebih dari perilaku, strategi, dan langkah pengurangan. Namun dalam keseharian sulit dipisahkan. Jika dirangkai dapat pula menjadi kalimat sederhana menjadi, kapasitas dan kemampuan bertahan. Konsep ketahanan masih relatif baru. Setidaknya dari pandangan saya atas banyak situs yang memuat, buku maupun diskusi/seminar mengenai hal tersebut. Undang-undang Penanggulangan Bencana (no. 24/2007) memulai dalam pasal 38 dan 59 (ketahanan sosial dan fisik).

Kebanyakan media, baik buku maupun diskusi lebih membincangkan apa itu bencana, apa itu gempa bumi, mengapa terjadi, mitigasi bencana, upaya tanggap darurat (relief), rekonstruksi dan rehabilitasi. Bukan tidak penting, tetap saja penting. Poin saya disini adalah, ada faktor ketahanan ketahanan lebih sering luput dari perhatian apalagi bahasan.

Ketahanan merupakan cerminan dari kemampuan, menyerap, menahan, atau memantulkan kembali bencana yang menerpa. Tujuan dari ketahanan adalah

  • mengurangi kemungkinan kegagalan, baik kegagalan fisik/infrastruktur, kegagalan sosial, atau kegagalan ekonomi akibat bencana baik materiil maupun imateriil (korban jiwa).
  • Mengurangi resiko akibat kegagalan, misalnya akibat rusaknya infrastruktur air bersih, masyarakat korban bencana terserang penyakit akibat air yang tercemar, jalan rusak menyulitkan evakuasi sehingga korban berjatuhan.
  • Memperpendek waktu rekonstruksi. Tingkat ketahanan yang terbangun dengan baik, akan memerlukan waktu rekonstruksi relatif lebih cepat dibandingkan ika ketahganan tidak dipersiapkan. Semakin cepat pulih dalm kondisi normal, maka masyarakat dapat kembalio beraktifits, berproduksi dan melanjutkan penseejahteraan. Waktu rekonstrtuksi yang alama tentusaja jika dipandang dari sudur manapiun tidak menguntungkan. Biaya rekonstruksi lebih mahal dua kali lipat dibandingkan persiapan.

Penguatan kapasitas/kemampuan dalam bertahan ini diciptakan sepanjang waktu. Dikondisikan dan dibentuk dari setiap perilaku. Di Jepang, tidak hanya dalam kurikulum pendidikan, ketahanan bencana diciptakan secara struktural, teroganisasi dan diciptakan dalam berbagai bentuk. Tidak heran jika terjadi bencana, di Jepang tidak lantas koleps apalagi korban jiwa yang besar. Sepertinya bencana Kobe tahun 1995 sudah cukup untuk belajar.

Di Indonesia, bencana tsunami Aceh di akhir 2004 dan gempa jogja medio 2006, apakah belum cukup untuk belajar? Yang agak ‘aneh’ rekonstruksi Jogja lebih cepat dari pada Aceh. Apakah Jogja lebih tahan bencana?… lanjut untuk tulisan berikutnya.

2 thoughts on “Kritisi Rumus PRB (3)

    khazanaharham said:
    27/01/2009 pukul 9:57 pm

    Ajiek, aku melihat bahwa “resilience” (ketahanan) merupakan hal yg patut diperhitungkan ketika berbicara mitigasi bencana. Mungkin udah pernah baca:
    http://www.proventionconsortium.org/themes/default/pdfs/CRA/EMA_2001_meth.pdf

    -arif

    ajiekdarminto responded:
    27/01/2009 pukul 11:58 pm

    Terima kasih atas masukannya mas Arham.
    .
    Terima kasih juga infonya, sudah saya download dan baca sebagian. Kebetulah saya sedang mendalami komponen ini. Memang, komponen resilient merupakan bagian yang perlu diperhitungkan. Justru mitigasi bencana merupakan bagian dari resilient itu sendiri. Lemahnya implementasi di lapangan, membuat seakan-akan resilient akan terbentuk dengan sendirinya. Siapkah kita? Untuk itu perlu Disaster planning…
    .
    Posisi dimana nih pak, lama tak jumpa. IPnya kok kepala 74 ya..?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s