Memotong siklus bencana

Posted on


Setiap musim hujan selalu saja ada bencana yang memakan korban masal. Banjir dan longsor adalah bencana langganan yang terjadi setiap musim hujan di negeri kita. Keduanya seakan-akan menjadi siklus bencana tahunan. Nyaris setiap daerah tertimpa banjir dan longsor kala musim penghujan.

Betapa tidak, sudah banyak daerah yang terkena bencana di musim hujan. Mulai Jakarta, Kalimantan, Sulawesi, Semarang, Surabaya, Jember, dan Bandung, hingga Madura nyaris tenggelam karena air hujan yang lebat. Daerah yang dapat dibilang terparah terkena dampak hujan lebat beberapa waktu lalu ialah Solo dan Karanganyar. Kemarin Solo tertutup luapan air Bengawan Solo. Jalan-jalan utama lumpuh total.

Karena Bengawan Solo memiliki jalur yang panjang hingga ke Timur, banjir pun menimpa sejumlah daerah di Jawa Timur. Misalnya Ngawi, Madiun, Lamongan, Gresik, dan Bojonegoro. Di daerah Karanganyar, Jateng, musim hujan kali ini telah menimbulkan longsor dan menewaskan enam korban serta ratusan hewan ternak warga sekitar pun musnah tertimbun tanah (Jawa Pos, 1/2/09).

Mengapa Diterpa Musibah?

Banyak orang bertanya-tanya, mengapa negeri yang penuh dengan hutan, lahan, serta tanaman ini bisa terkena musibah banjir dan longsor? Apakah Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang berlumur dosa-dosa? Ataukah alam sudah tidak mau lagi bersahabat dengan kita?

Dulu, ketika masih kanak-kanak, saya ingat betul bahwa musim hujan tak sampai menimbulkan bencana banjir ataupun longsor. Bahkan, jarang pula terlihat di media massa adanya daerah-daerah yang terkena banjir dan longsor. Barangkali pada masa itu, rumah-rumah penduduk masih jarang -terutama di sekitar bantaran sungai- dan hutan-hutan serta lahan resapan air pun masih melimpah ruah.

Kini, rumah-rumah penduduk mulai memadati daerah-daerah, entah daerah kota ataupun desa. Bantaran sungai dan aliran sungai yang seharusnya tak ditempati, justru dipenuhi dan dipadati perumahan penduduk dengan jumlah yang overload. Bahkan, antarrumah pun sangat berdempet-dempetan, nyaris tidak ada ruang udara dan jalan untuk publik luas.

Ironisnya, sungai itu dianggap sebagai objek mati yang dapat diperlakukan seenaknya oleh masyarakat sekitar. Buktinya, banyak dari mereka yang melakukan aktivitas penambangan pasir di sekitar sungai demi mengais rezeki. Itu belum lagi ditambah krisis kesadaran membuang sampah pada tempatnya. Dengan demikian, sungai dianggap sebagai tempat pembuangan sampah yang potensial.

Mereka menganggap aliran air sungai akan membawa sampah itu menuju ke laut. Namun, mereka lupa bahwa sampah itu bisa terhenti di suatu tempat dan bisa menghambat kelancaran aliran air sungai. Akibatnya, ketika air hujan deras turun, banjir pun tidak bisa terhindari lagi. Air sungai pun meluap ke perumahan penduduk di sekitarnya.

Banjir yang terjadi di negeri ini tentu tidak hanya disebabkan luapan air sungai, melainkan juga banjir karena kapitalisme. Kota yang seharusnya masih memberikan ruang penghijauan ternyata kini mulai pupus. Hanya karena kepentingan pembangunan yang berorientasi kepada surplus ekonomis, lahan-lahan di perkotaan digunakan untuk membangun mal, realestat, pabrik, diskotek, tempat judi, prostitusi, dll.

Ini semakin diperparah karena sistem drainase di perkotaan yang tak layak dan maksimal sebagai penampungan air hujan dengan jumlah banyak. Lihat saja, tempat saluran pembuangan air di kota kebanyakan terlalu sempit. Itu pun masih disatukan dengan pembuangan limbah pabrik, sehingga menyulitkan ruang gerak air hujan yang turun sangat deras.

Ironisnya, ruang drainase itu pun justru bersifat monoton, sementara luas jalan yang dilalui kendaraan bermotor semakin meluas setiap tahun. Itu berarti bahwa agen struktural kita di perkotaan kurang menyadari gerakan ekologis dalam menerapkan kebijakan tata ruang kota.

Gedung Modern

Pembangunan gedung modernis-kapitalistik itu juga menyuburkan kekuatan pemanasan global. Sebagaimana kita tahu bahwa efek rumah kaca dan polusi udara (gas kendaraan bermotor dan pabrik) adalah penyumbang potensial bagi eksistensi global warming. Namun, di negeri kita jumlah kendaraan bermotor semakin banyak. Meskipun dihantam krisis finansial global, ternyata di jalan-jalan volume kendaraan bermotor semakin banyak jumlahnya. Tak hanya jalan-jalan di kota, tetapi juga di daerah pedesaan.

Efek global warming itu justru membuat terjadinya curah hujan yang tidak normal (musim hujan semakin panjang dan semakin deras), cuaca kian panas, air laut meninggi, angin begitu kencang (hingga menyebabkan puting beliung), dan menyebabkan kekeringan ketika musim panas.

Keberadaan hutan menjadi penting dalam kondisi seperti itu. Karena hutan bisa menangkal efek global warming yang semakin merajalela. Tentu Indonesia memiliki peran penting di dalamnya. Mengingat, Indonesia merupakan paru-paru dunia karena memiliki jumlah hutan yang sangat banyak dibanding Amerika.

Hanya, terkadang watak ekonomis manusia kerap menggoda bagi proses penggundulan hutan. Banyak hutan yang digunduli hanya karena pohonnya akan dijual ke negeri tetangga. Banyak pula hutan yang dibabat manusia karena akan dialihfungsikan menjadi lokasi industri (seperti yang terjadi di Wonogiri dan Bintang).

Ketegasan hukum dan kesadaran ekologis dari para elite pemerintahan kita adalah salah satu media yang harus digalakkan guna mencegah terjadinya bencana alam akibat krisis hutan, kapitalisme, kultur membuang sampah sembarangan, dan global warming. Siapa pun orangnya, yang dapat mengancam bahaya ekologis di negeri ini harus segera diberi tindakan dan hukuman yang tegas.

Tulisan: Ardhie Raditya MA, dosen sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Unesa Surabaya di http://www.jawapos.com dimuat dan dibahas di milis bencana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s