3 Tahun gempa, sudahkah belajar?!

Posted on


Kurang lebih 3 tahun yang lalu 27 Mei 2006 menjadi momen penting bagi masyarakat Jogja-Klaten. Hampir semua orang tau dan merasakan. Terutama masyarakat Jogja. Hampir 6.000 korban jiwa. Tidak sedikit.

Banyak donor dan bantuan datang, dan hingga hari ini ada yang masih ‘bertahan’ di Jogja atas konsep mitagasi bencana. Trilyunan dana digelontorkan dan di-eguh-ke jadi macam-macam fasilitas. Dari monumental hingga pendidikan yang sifatnya tidak kentara.

Hal yang paling mendasar adalah, Apakah kita sudah belajar dari itu semua? Siapkah kita untuk gempa berikutnya? Atau mungkin kita sedang berharap proyek baru atas bencana yang ada?

Dua hari yang lalu (21/05/2009) saya sedang ‘jaga’ pameran bedah rumah dan bangunan di JEC. Kebetulan jadi satu dengan stand PU propinsi. Ada hal menarik yang ingin saya bagi…

Di meja kami terdapat banyak buku-buku tentang rekonstruksi, proses pembangunan masyarakat, konsep tata ruang, pemberdayaan masyarakat hingga detil struktur bangunan tahan gempa. Maket rumah tahan gempa ukuran besar dengan detil pembesian juga kami bawa. Foto-foto terpampang di display…

Ada ibu-ibu datang ke stand kami dan bertanya..”mas ada contoh gambar rumah tidak...”, saya bilang, “banyak bu…” sambil menunjukkan album foto BDR JRF. Ibu itu lantas bilang..”yang rada bagusan dikit ada mas?”. Masih belum ngeh kemana si-ibu ini bicara. “Bantuan JRF yang sudah jadi ya seperti di album ini bu.. tergantung swadayanya.. bla.. bla…”. Lah wong kami ni pendamping rekonstruksi ReKOMPAK ya.. yg ditunjukin jg hasil kerja kemaren..

Lama-lama si ibu ini, ngaku juga,..”saya mo bangun rumah, lagi cari contoh gambar rumah..saya mau 4 kamar yang gede-gede..” Hmmm… ternyata ‘salah alamat’ si ibu ini.. harusnya dia cari konsultan perencana properti, jasa arsitek ato semacamnya.

Mumpung ibunya duduk santai saya ajak ngobrol…”nanti kalo dah dapat gambar bagus.. jangan lupa ya bu, rumahnya juga tahan gempa…” Jawaban si-ibu,”halah mas omahku nang ndeso kok, nang sumberadi sleman kono..” Gempa lak neng mbantul.. HEH??!!!!!

Ibu ni sadar nggk ya yg diomongin? kali berfikir terlalu sempit. Yen gempa ki = bantul. Apa dia nggk ngeh kalo di Sleman punya gunung segede itu.. yg belum ketauan kapan bledoznya…?

Jangan-jangan kita semua berfikir sama.. gempa tuh cuma ada di bantul, sleman dan daerah lain AMAN! mBangun sak penak-e. Waduh-waduh.. jgn2 media dan wong-wong pinter yang ngomongin bencana lupa menanamkan ini semua… Apa ini cerminan masyarakat JOGJA? atau Indonesia? masih belum belajar juga??

Ato masyarakat kita harus di’paksa’ belajar dengan pengalaman? atau media yg kurang agresif? Tsunami aceh 2004–> selang 2 tahun gempa Jogja. Itu jg tidak belajar.. panik tsunami di kota jogja yg notabene ketinggan >90m? Ternyata kita tidak belajar dari aceh. Sekarang…. 3 tahun gempa jogja.. masih belum mau belajar juga?

Poin-poin yg bisa dipetik disini, setidaknya menurut saya..

1. Kali memang harus di’paksa’ secara struktural dan sistemik–

2. Ketahanan bencana memang harus dibentuk/diciptakan! tidak bisa dengan pembelajaran alami

3. Pelatihan bencana harus benar2 mengakar dan menyentuh masyarakat bawah.

4. Rekonstruksi itu mahal! pilih mana?

5. Kalo anda ingat segala hal dalam menghindar dari resiko bencana… beritahu/ajari keluarga anda, tetangga, teman anda dan siapapun.. dimanapun.. hal sekecil apapun. Semoga menjadi amal jariyah.. amiin. 

 

Just Ajiek..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s