Belajar dari Kawasan Carribea

Posted on Updated on


Sebelum tahun 1990 usaha-usaha manajemen bencana tidak terintegrasi di dalam perencanaan pembangunan di kebanyakan Kepulauan Caribea. Pada masa tersebut tidak ada kerangka yang terintegrasi dan melembaga mengenai perencanaan pembanguanan dan investasi. Dari satu perspektif yang kelembagaan, negara-negara di kawasan Caribea terdiri dari negara-negara yang berdaulat dengan birokrasi yang terpisah.

Carribea_mapKerjasama antar negera di Kepulauan Caribea sudah mulai dilaksanakan sejak donor internasional berkolaboarasi di akhir tahun 1980. Donor-donor tersebut membentuk The Pan Caribbean Disaster Prevention and Planning Program (PCDPPP). Proyek ini merupakan kerjasama regional pertama kali dengan agenda kebencanaan. Kerjasama tersebut masih bersifat sementara.

Setelah kejadian Topan Badai Gilbert and Hugo,tahun 1993, muncul organisasi Organization of America State (OAS), United States Agency for International Development (USAID), Caribbean Disaster Mitigation Project (CDMP). Program pertamanya adalah The Caribbean Disaster Emergency Response Agency (CDERA), Caribbean Development Bank (CDB), dan kerjasama donor yang diarahkan khusus untuk: 

  • Berbagi data mengenai kerentanan bencana
  • Mengerahkan dukungan swasta dalam penghitungan bahaya (hazard assessment), dan
  • Membangun pendekatan yang komprehensif dalam manajemen resiko bencana.

Sejak 2002, Canadian International Development Agency (CIDA) mendirikan proyek, yang dilaksanakan oleh CDERA dan didukung oleh OAS.  Proyek tersebut diberinama the Caribbean Hazard Mitigation Capacity Building Program (CHAMP). Proyek tersebut telah membantu negara-negara di kawasan tersebut dalam membangun kerangka kebijakan perencanaan mitigasi bencana yang komprehensif serta implementasi pelatihan dan sertifikasi bangunan aman bencana.

OAS yang bermarkas di Washington DC, dalam publikasinya pada tahun 2005, dalam publikasinya The Economics of Disaster Mitigation in the Caribbean mengangkat angin topan menjadi isu utama. Datangnya musim angin topan di Lautan Atantik disebutkan merupakan awal dari pekerjaan paling menyibukkan yang pernah direkam.

Hingga Agustus 2005, tercatat beberapa badai topan besar, diantaranya Topan Arlene, Bret, Cindy, Dennis, Emily dan Katrina. Jika dijumlahkan, maka total korbannya lebih dari 150 orang tewas, merusak 30.000 rumah dan menyebabkan kerusakan senilai US$45 milyar. Untuk negara seperti Granada dan Haiti sangat terkejut (shocking) ketika diterjang Badai Jean dan Ivan tahun 2004. Sebagai faktanya 90% rumah dan infrastruktur rusak/dihancurkan bencana pada tahun 2004 di Granada, faktanya baru selesai dibangun sebelum musim berikutnya (2005) dimulai.

Pada tahun musim 2005 angin topan secara umum menguat dan frekuensinya meningkat. Demikian pula dengan jumlah korban dan kerusakan ekonomi. Sebagai contoh, biaya yang dikeluarkan akibat bencana alam di Amerika Latin dan kawasan Karibia seluruhnya naik dari US$700 juta untuk dua dekade sebelumnya menjadi lebih dari US$3,3 milyar per tahunnya. Hal ini mencerminkan kecenderungan global. Perusahaan asuransi Munich Re memperkirakan biaya tahunan atas akibat bencana alam di seluruh dunia, naik US$75,5 milyar sepanjang dekade 1960-an, menjadi US$659,9 milyar sepanjang dekade 1990-an. Munich Re baru-baru ini menyimpulkan bahwa tahun 2004 adalah tahun bencana alam paling mahal dalam sejarah asuransi.

ilustrasi_recovVSmitiigasiDisamping mengejutkan ekonomi efek atas angin topan, kebanyakan negera dan donor memiliki kecenderungan untuk fokus pada rekonstruksi dan respons darurat setelah kejadian terjadi. Sebagai pembanding, negara maju sudah berkonsentrasi pada penyiapan rencana manajemen respons darurat dengan mitigasi dan format-format lain dari manajemen resiko, sebelum angin topan melanda.

Pada kondisi demikian OAS berpendapat mengenai sektor ekonomi dan pembangunan di negara kawasan Caribbea diarahkan pada investasi dibidang mitigasi bencana membuat ekonomi lebih tahan dibandingkan dengan semata-mata berkonsentrasi pada proses rekonstuksi (nantinya). Investasi pada infrastruktur, gedung yang tahan bencana, serta pada daerah rawan bencana lainnya lebih hemat biaya dibandingkan dengan pembelanjaan untuk  penanganan bencana serta korban, rasionnya 2:1.

2 thoughts on “Belajar dari Kawasan Carribea

    ahnku said:
    01/09/2009 pukul 10:04 pm

    Salam kenal ya… berita paling mengerikan datang dari PEMDA jakarta…Orang sedekah di denda 20.000.000,–
    baca di http://ahnku.wordpress.com/2009/09/01/beri-sedekah-denda-rp-20-000-000/

    […] Tulisan sebelumnya yang terkait: Belajar dari Kawasan Caribbea. […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s