INDONESIA MOST LIVABLE CITY INDEX 2009

Posted on Updated on


Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia telah melakukan penelitian Indonesia Most Liveable City Index, untuk mengetahui persepsi tingkat kenyamanan hidup di kota yang dilakukan di 12 kota besar di Indonesia.

Dalam press releas yang diselenggarakan pada hari Rabu, 12 Desember 2009, Sekjen IAP, Ir. Bernardus Djinoputro, mengatakan bahwa mayoritas besar kota-kota besar di Indonesia dinilai tidak nyaman oleh warganya.

Berdasarkan survey yang dilakukan terhadap warga di masing-masing kota diketahui bahwa Nilai rata-rata (mean) indeks adalah 54,17, dengan persepsi tingkat kenyamanan tertinggi di Kota Yogyakarta yaitu sebesar 65,34 dan persepsi kenyamanan warga yang paling rendah adalah Kota Pontianak dengan indeks 43,65.

Laporan lengkap silakan download disini.

Kota – kota dengan indeks diatas rata–rata adalah : Yogyakarta, Manado, Makassar dan Bandung. Sedangkan kota – kota dengan indeks dibawah rata-rata adalah Jayapura, Surabaya, Banjarmasin, Semarang, Medan, Palangkaraya, Jakarta, Pontianak. Berikut adalah indeks persepsi kenyamanan untuk setiap kota :

1 Yogyakarta 65.34
2 Manado 59.90
3 Makassar 56.52
4 Bandung 56.37
5 Jayapura 53.86
6 Surabaya 53.13
7 Banjarmasin 52.61
8 Semarang 52.52
9 Medan 52.28
10 Palangkaraya 52.04
11 Jakarta 51.90
12 Pontianak 43.65

Berdasarkan survey terhadap persepsi masyarakat yang telah dilakukan diketahui beberapa temuan yang cukup menarik, diantaranya adalah :
1. Kriteria Penataan Kota
Untuk Kriteria Penataan Kota, Kota Palangkaraya memiliki angka prosentase tertinggi dipersepsikan oleh warganya memiliki penataan kota yang baik, yaitu sebanyak 51 %. Kota Palangkaraya meskipun masih jauh dari ukuran ideal, namun memiliki kondisi penataan kota yang cukup baik. Dari sudut pandang lain dapat dikatakan kapasitas akomodasi ruang Kota Palangkaraya terhadap pertumbuhan penduduk masih memadai.
Hal yang sebaliknya terjadi dengan Kota Bandung. Kota dengan persepsi terendah untuk aspek tata kota adalah Kota Bandung hanya 3 %. Artinya bahwa hanya 3 % responden warga Kota Bandung yang menganggap penataan kota Bandung baik, selebihnya 97 % menganggap aspek penataan Kota Bandung buruk.
Angka 3 % ini merupakan angka terendah dari semua kriteria di semua kota, dan itu ada di Kota Bandung. Hal ini mengindikasikan bahwa warga Kota Bandung sangat tidak puas dengan kondisi penataan kota Bandung sekarang. Salah satu hal yang dapat dilihat secara kasat mata adalah indikasi komersialisasi kota yang bergerak terlalu jauh yang merampas ruang-ruang publik yang tentu hal ini dinilai tidak baik oleh masyarakat kota.
Tentu saja indikasi ini harus menjadi perhatian bagi semua stakeholder pembangunan Kota Bandung, baik pihak pemerintah, swasta, akademisi, praktisi dan pihak masyarakat dan swasta untuk ikut mengawal kondisi Tata Kota Bandung menuju penataan kota yang lebih baik.
Pada dasarnya, kepentingan umum seperti perasaan keteraturan, kenyamanan dan keamanan dapat terwujud dengan penataan yang terarah, teratur dan berkualitas. Sehingga dengan demikian kriteria penataan kota ini berdampak besar terhadap aspek kehidupan perkotaan lainnya.

2. Kriteria Ketersediaan Lapangan Kerja.
Untuk kriteria ini warga Kota Jakarta memiliki persepsi yang paling rendah, yaitu hanya 10 % responden warga Jakarta menilai ketersediaan lapangan kerja di Jakarta baik. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun sebenarnya aktivitas ekonomi yang sangat tinggi di Jakarta yang merupakan peluang bagi penciptaan lapangan kerja, tetapi lapangan kerja tersebut tidak sebanding dengan pertambahan penduduk yang sangat tinggi, sehingga tingkat kompetisi dalam mendapatkan lapangan kerja menjadi sangat tinggi.

3. Kota Paling Nyaman
Kota dengan persepsi warga paling nyaman adalah Kota Yogyakarta. Hampir pada semua kriteria, persepsi warga Kota Yogyakarta selalu diatas 30 %, kecuali untuk criteria ketersediaan lapangan kerja dan ketersediaan fasilitas untuk kaum difable. Budaya masyarakat Kota Yogya yang lembut, sopan, ramah, penurut dan tidak banyak menuntut merupakan salah satu alasan tingginya persepsi kenyamanan warga terhadap kotanya selain tentu saja pencapaian pembangunan kota yang telah dilakukan pemerintah bersama dengan warga kota Yogya.

4. Fasilitas untuk kaum Difabel
Semua kota belum memberikan fasilitas yang memadai bagi penyandang cacat. Buruknya fasilitasi bagi penyandang cacat ini dapat diartikan pula bahwa semua kota belum memiliki fasilitasi yang baik bagi kaum manula dan ibu hamil, padahal mereka semua juga merupakan warga kota yang harus diperhatikan.

5. Kota Paling Tidak Nyaman
Kota Pontianak memiliki persepsi kenyamanan warga yang rendah hampir pada semua kriteria. Dari aspek fisik dapat dilihat bahwa Kota Pontianak memiliki lahan gambut yang sangat luas, hal ini berdampak pada keterbatasan areal pengembangan kota, limitasi bagi pengembangan infrastruktur dan ketersediaan air bersih. Aspek-aspek fisik tersebut menuntut adanya pendektan teknik yang khusus dan tidak bisa disamakan dengan kota – kota lainnya.

Semoga hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu pertimbangan dan masukan bagi stakeholder kota dalam pembangunan kota menuju kota yang Liveable.

4 thoughts on “INDONESIA MOST LIVABLE CITY INDEX 2009

    rusmanik said:
    25/12/2009 pukul 11:57 am

    INFORMASI YANG SANGAT BERHARGA

    Pemahaman atas KRITERIA akan memudahkan fokusing program kegiatan pembangunan dari Pemerintah Daerah. Tiap kriteria bisa dijadikan fokus satu atau beberapa program. Memudahkan😉

    Bagi masyarakat juga penting. Tata lingkungan lingkup pedukuhan atau RT bisa lebih mantab.

    L.A.N.J.U.T.K.A.N.

    ajiekdarminto responded:
    27/12/2009 pukul 6:21 am

    Terima kasih pak Rusman. Saya rasa ini pancingan untuk mendetilkan di tingkat kab./kota sehingga masing2 memiliki indeks keterlayanan dan kenyamanan warganya. Tren dari indeks ini bisa dijadikan analisis keruangan yang cukup komprehensif.

    RPJM akan lebih mudah disusun, sementara stakeholder bisa bergerak lebih fleksibel dalam menanggapi penemuan semacam ini. Aspek politis lebih ditekan.

    Satu sisi yang belum tergali dari laporan lengkap tersebut adalah aspek historikal pembentuk karakter kota. Aspek pendahulu ini memang agak sulit untuk dikuantifikasikan. Jumlah responen yang tidak proporsional terdahap populasi penerima layanan, sehingga representasinya masih bisa diperdebatkan. Namun demikian ulasan ini cukup membuka mata perencana dalam membuat pijakan perencanaan, sehingga tidak uthopies.

    Ajiek.

    Lisdu said:
    28/12/2009 pukul 5:49 pm

    Salam,

    Informasi dan penelitian yang dilakukan saya rasa cukup menarik dan dapat memberikan informasi yg cukup berharga bagi qta. cuman saya bertanya-tanya apakah Bali tidak masuk dalam penelitian bapak? dan bagimana dengan kota-kota kecil yang lainnya seperti : solo. Terima kasih sebelumnya.

    Warm Regards,

    Lisdu

    muhdiya said:
    30/12/2009 pukul 11:09 am

    mksh infonya mas,
    copast y ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s