Mengapa Sektor Informal Sering Terlambat Ditangani dalam Recovery?

Posted on Updated on


ajiekdarminto.worpress.comSaya mencoba mendalami dari beberapa informasi untuk menjawab pertanyaan diatas. Sektor informal ini tidak mudah tersentuh oleh proses rekonstruksi dalam kerangka besar recovery. Sektor ini terpinggirkan karena alasan administrasi sehingga keberpihakan yang lemah. Alasan klasik agaknya menjadi pertimbangan. Sektor informal sering tidak terdata dan didampingi oleh data yang valid. Sementara itu sektor ini ada secara riil. Kawasan Phuket agaknya bisa menjadi tempat belajar yang cukup bagus.

 ajiekdarminto.wordpress.ocm

Gempa bumi dengan kekuatan 9,3 skala richter (versi kedua 8,9 SR) yang terjadi 26 desember 2004 menelan banyak lebih dari 150.000 korban tewas (Wikipedia, 2007). Efek ikutan gempa dengan kedalaman 10 km di 160 km Banda Aceh,  yaitu gelombang tsunami. Setidaknya terdapat 8 negara yang terkena dampak langsung, yaitu Indonesia, Srilanka, India, Bangladesh, Maladewa, Somalia, Malaysia dan Thailand.

Kawasan Phuket, Thailand, merupakan kawasan turis yang terkena dampak terbesar di Thailand. Korban jiwa di wilayah tersebut menurut Wikipedia mencapai 5305. Kerugian terbesar pada sektor parwisata. Sektor ini merupakan matapencaharian sebagaian besar penduduk Phuket.

Aktifitas ekonomi lokal menjadi salah satu indikator ketahanan akan bencana. Tanpa pertukaran uang dalam berbagai aktifitas, maka kelangsungan hidup, perjuangan untuk pemulihan menjadi sangat terbatas. Para korban harus segera membangun kembali rumah dan lingkungannya.

Wisatawan paska tsunami masih membatasi diri untuk bepergian ke lokasi yang terkena dampak tsunami. Laporan media dan persepsi turis mempengaruhi persepsi turis yang akan datang. Media berperan besar dalam industri ini. Wisatawan tidak ingin ‘pencarian surga’ berubah menjadi bencana yang menakutkan.

Kesan positif (image) merupakan bagian penting dalam industri ini.

Pemberian diskon perjalanan berhasil membuat wisatawan datang. Pembukaan kembali Starbuck Coffee di Phuket, awal 2006, membawa kesan positif untuk perbaikan wisata di Thailand. Meskipun demikian tidak serta merta membuat ekonomi nasional membaik tapi agaknya keyakinan memang perlu dibuktikan.

Sandaran ekonomi pada sektor informal di Phuket cukup besar. Perhitungan statistik pemerintah menggunakan dasar pendapatan sektor formal. Sektor informal memberikan kontribusi 44% dari GDP Thailand. Angka ini lebih besar dai angka sektor informal di Los Angeles County yang diestimasi sebesar 29%, dan Australia sebesar 15%.

ILO, 1993 dalam Handmer, 2006 mendefinisikan sektor informal

  • Beroperasi dengan skala kecil (small size of operations)
  • Menggunakan tenaga kerja beasal dari keluarga atau tenaga lokal (reliance on family labour and local resources)
  • Bermodal rendah (low capital endowments).
  • Padat karya, bermodal tenaga (labour-intensive technology).
  • Kompetisi yang tinggi (high degree of competition)
  • Tidak memerlukan keahlian khusus, jika ada, menggunakan keahlian diluar sistem pendidikan formal (unskilled work force and acquisition of skills outside the formal education system)

Pata pelaku sektor ini kebanyakan tidak memiliki/terlindungi asuransi. Sektor ini jarang tersentuh oleh lembaga finansial (formal). Negara dalam hal ini tidak menjamin asuransi atau memberi kompensasi. Sumber pendapatan hilang, sementara harus mengembalikan hutang kepada lembaga keuangan (non formal juga). Proses ini yang membuat sektor informal tidak langsung tersentuh. Agaknya ini yang menjadikannya tidak tersentuh. Bagaimana di Indonesia ya..?

Apa pendapat kamu? Leave your comment here

ajiekdarminto

(foto: commons.wikimedia.org l asianban.com l globaljaya81.indonetwork.co.id l thaigoodview.com)

3 thoughts on “Mengapa Sektor Informal Sering Terlambat Ditangani dalam Recovery?

    Charline Tsukamoto said:
    08/12/2010 pukul 12:21 pm

    Obviously, what a great internet site and informative posts, I’ll add backlink – bookmark this web site? Regards,
    Reader.

    adi said:
    24/02/2011 pukul 3:47 pm

    Mengapa sector informal sering terlambat? Pertanyaan ini menurut saya ada baiknya disimpan karena ada pertanyaan lebih besar yaitu: ada berapa banyak sector informal dan formal yang ada?
    Mungkin ini sangat sederhana tapi saya yakin pertanyaan ini tidak dapat dijawab. Karena jika pemerintah memiliki data ini dengan tingkat keakuratan 75% saja, saya yakin apabila terjadi bencana, upaya pemulihan ekonomi dapat diwujudkan dalam waktu singkat.

    ajiekdarminto responded:
    24/02/2011 pukul 4:13 pm

    Yes mas adi. Terima kasih comment-nya. Senada dengan anda. Sektor informal terlambat ditangani karena lemahnya sektor ini dalam pencatatan publik. Kalo ditinjau siapa si-pemilik sektor informal ini, ya sesuai defenisi diatas. Konlusinya sama seperti pendapat mas adi, penataan dan pendataan sektor informal.

    Keberpihakan pada sektor ini menjadi penting saat bencana dan recovery. Tetapi sering tidak disadari pada saat pre-disaster. Perencanaan yang baik, sistematis dan konsisten untuk si-sektor informal ini, akan menghindarkan keterlambatan respon untuk ditangani. Data awal sangat penting. Ketahanan organisasi data dan ketahanan sosial menjadi kunci suksesnya.

    Atau mungkin ada pendapat lain?

    ajiek

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s