Diversifikasi Ekonomi untuk Ketahanan Bencana

Posted on Updated on


ekonomi merapiDiversifikasi atau penganekaragaman, sering disebut dalam perbincangan mengenai pangan. Wacana penganekaragaman ini kemudian diadopsi dalam skala yang lebih luas terkait dengan kebencanaan. Penganekaragaman ini dapat menjadi strategi penting dalam pencapaian ketahanan bencana. Keterpurukan aset dan lambatnya recovery sering ditemui pasca bencana. Apa perlunya diversifikasi ekonomi dalam manajemen bencana.

Bencana secara umum akan mengubah banyak hal, termasuk didalamnya adalah aktifitas ekonomi. Belajar dari Merapi, mata pencaharian utama penduduk di lereng (terutama lereng selatan) adalah ternak dan pertanian. Bencana di akhir tahun 2010 mengubah semuanya. Aset penduduk berupa ternak tidak mampu lagi menopang kehidupannya. Pertanian demikian pula. Kondisi berikutnya adalah, hilangnya mata pencaharian utama dan tentusaja pendapatan. Keberdayaan dalam sektor ekonomi menjadi lumpuh.

Secara sederhana, semakin beranekaragam sumber penghidupan ekonomi, maka semakin besar kemungkinan untuk bertahan hidup. Jika memiliki satu sumber ekonomi, maka ketika terjadi bencana dan mengakibatkan kelumpuhan sumber tadi, maka tidak ada alterntif. Berbeda jika memiliki lebih dari satu, jika satu rusak maka masih ada beberapa lain yang bisa dijadikan sandaran ekonomi.

Untuk saat ini hal tersebut masih menjadi kendala. Memang benar, ketika terjadi bencana banyak sumbangan yang masuk. Ya kalau ada yang memberi sumbangan. Artinya, dalam kondisi minimum sekalipun seharusnya mampu menghidupi diri sendiri. Kemampuan hidup tidak bergantung sumbangan. Konsep diversifikasi ekonomi membuat masyarakat pada daerah rawan bencana menjadi tahan bencana. Sehingga bencana sehebat apapun tidak mampu merontokkan ekonomi masyarakat. Alur pikir ini yang ingin saya bawa dalam tulisan ini.

Ketahanan bencana belum cukup populer di Indonesia. Setidaknya terlihat dengan minimnya tulisan mengenai ini. Konsep ketahanan sebenarnya sudah mulai diperbincangkan ditingkat internasional sejak 2005 paska kejadian tsunami Aceh. Munculnya HFA (Hyogo Framework Action) di Kobe, tahun 2005, menjadi komitmen bersama mencapai ketahanan bencana 2015. Saya tidak tahu, apakah frame ini ada di strategi ekonomi Indonesia. Sepertinya Indoesia lebih menyukai ekonomi pasar yang lebih gaul.

Konsep ketahanan bencana lebih dari sekedar kapasitas. Ketahanan mengandung kekuatan dan kelenturan, tidak lekas rusak. Ketahanan  ditujukan untuk memperkecil atau tanpa korban jiwa/meninggal, korban sakit (injures) dan kerugian ekonomi. Ketahanan bencana merupakan sistem bertahan, menyerap tekanan, mengelola dan memulihkan kembali dengan cepat dari perubahan/kemalangan yang diakibatkan oleh ‘goncangan’ bencana (Darminto, 2011)

Mari belajar dari Caribbea, dimana ketahanan ekonomi bisa dipelajari. Saya melakukan studi empiris untuk daerah ini. Caribbea merupakan kawasan dengan gugusan pulau yang sangat banyak. Caribbea terletak di Laut Karibia. Pulau-pulau ini terbentang menuju selatan dari bawah Florida ke barat laut Venezuela di Amerika Selatan. Paling tidak terdiri dari 7000 pulau, pulau kecil, karang, dan caye. Kepulauan ini dikelompokkan menjadi dua puluh lima wilayah termasuk negara merdeka, departemen luar neger, dan daerah administratif lainnya.

kepulauan caribbeaKerentanan negara-negara Caribbea dalam kaitan dengan posisi/lokasi geografisnya  serta ketidakhadiran diversifikasi ekonomi, saat bencana melanda angin topan dan banjir melanda membuat makroekonominya terkejut (shock). Kebanyakan negara Carabbea merupakan negara mandiri dengan pariwisata dan eksport pertanian-pertanian skala kecil, seperti pisang, tebu (gula) dan kopi. Lebih dari itu, secara geografis negara-negara Caribbea memiliki bencana yang mirip, yaitu satu kali topan (hurricane) dan banjir di seluruh negeri. Hal ini berdampak negatif pada Gross Domestic Product (GDP). Goncangan tersebut mengakibatkan penurunan pendapatan fiskal, hilangnya tenaga kerja, serta hilangnya investasi asing langsung.

Akibat kejadian bencana topan badai yang merugikan ekonomi di Kepulauan Carribea, maka negara-negara disana melakukan diversifikasi ekonomi. Diversifikasi tersebut dimaksudkan jika terjadi bencana maka tetap memperoleh pendapatan tanpa tergantung sektor pertanian. Sektor yang dikembangkan antara lain penguatan sektor industri dan aktifitas komersial.

Kedekatan secara geografis dengan Amerika Serikat, menjadi keuntungan tersendiri. Jamaica misalnya, mengembangkan jasa reparasi dan perawatan untuk pesawat terbang serta pengangkutan bahan pertanian. Diversifikasi lain yaitu rekayasa industri, pabrikasi ringan (misalnya pembuatan sukucadang) dan pabrikasi mebel (furniture).

Pada kwartal pertama tahun  2006, ekonomi  Jamaica sudah mengalami masa pertumbuhan yang pesat. Inflasi turun menjadi 6.0% dan angka pengangguran turun hingga 8.9% dan Gross Domestic Product (GDP) nominal tumbuh 2.9%. Tahun 2006 nilai GDP US$10.565 juta, sebelumnya US$10.267 juta. GDP dihitung dari penjumlahan konsumsi, investasi, pengeluraran pemerintah dan ekspor dikurangi impor.

Pertumbuhan ini belum pernah terjadi sebelumnya. Sektor pendukungnya antara lain pengembangan infrastuktur dan transportasi antar pulau sehingga menaikkan angka kedatangan turis. Sektor pertambangan, jasa dan pertanian juga memberikan kontribusinya.

Kembali ke Merapi, desain penanekaragaman sumber ekonomi perlu segera dipikirkan dan direncanakan. Sekarang saat terbaik memulainya. Review tataruang Merapi sudah mulai, bagaimana redesain ekonominya? Bencana Merapi hampir pasti.

Bagaimana menurut pendapatmu? Sebaiknya dari mana memulainya? Share disini ya…

Tulisan sebelumnya yang terkait: Belajar dari Kawasan Caribbea. [ajiek darminto/april2011]

4 thoughts on “Diversifikasi Ekonomi untuk Ketahanan Bencana

    fariza said:
    01/04/2011 pukul 1:41 pm

    mungkin ini hal-hal yang terlawatkan kang dari para ahli, mereka memikirkan untuk meminimalkan jatuhnya korban jiwa tetapi untuk kedepan krisis ekonomi yang di alami dari bencana ini belum banyak disoroti dan saya setuju untuk hal ini diangkat dan dari sudut pandang ilmu geografi melalui pendekatan yang kompleks

    ajiekdarminto responded:
    01/04/2011 pukul 2:43 pm

    Yes mas fariza, terimakasih komentarnya. Sepertinya tanggap darurat lebih heroik dan lebih sexy buat dikerjakan. Contoh sederhana, saat ini tidak banyak pegiat atau lembaga yg masih exist di Merapi, pasca bencana. Atau belum??

    Ketahanan munngkin ada, tetapi bisa naik bisa turun. Seperti halnya ketahanan tubuh. Kadang tahan penyakit kadang tidak. Justru dengan demikian ketahanan harus dipelihara dan ditingkatkan. Demikian pula untuk kebencanaan. Penelitian ini jarang. Mungkin dengan berkaca kawasan Caribbea, bisa menggugah pikiran kita.

    Jika setuju, memulainya darimana, itu penting.🙂 mungkin bisa diteliti temen2 GEGAMA dan jadi bahan skripsi geografi, bagaimana distribusi, pola keruangan sektor ekonomi dikaitkan dengan fenomena merapi. Bagaimana menghubungkan perilaku ini terhadap kondisi sebelum dan sesudah erupsi. Apakah sama pola di lereng selatan dengan lereng utara? Masih relefankah mata pencaharian lama? ternyata luas… ya kan?

    ajiek

    Uncu Syahrial said:
    20/04/2011 pukul 10:27 pm

    Diversifikasi Ekonomi merupakan bagian dari Economy Disaster yang mesti dikaji lebih mendalam.Saya setuju dengan diversifikasi ekonomi untuk memberikan alternatif-alternatif penghasilan. Selama ini pengkajian banyak ditujuan kepada dampak dari bencana bagi perekonomian masyarakat yang dalam siklus kebencanaan berada di emergency response dan recovery, Mitigasi bencana dari segi ekonomi dan diversifikasi ekonomi ini merupakan salah satu dari mitigasi bencaan dari segi ekonomi dipikirkan oleh pemangku kebijakan dan yang peduli DRR. Paradigma penanggulangan bencana telah berkembang menjadi lebih holistic dan tidak parsial lagi, jadi penanggulangan bencana tidak hanya pada saat bencana terjadi dan masa recovery tetapi juga masa pra bencana. Justru dengan adanya mitigasi bencana dari segi ekonomi ini merupakan investasi bagi masyarakat dan pemerintah. Penanggulangan bencana memang tidak bisa dipandang dari satu atau dua bidang ilmu tetapi berbagai macam aspek kehidupan ilmu pengetahuan terlibat didalamnya. Menarik buat tulisan yang membahas dari segi ekonominya. Tetapi yang terpenting apa potensi dan kelemahan dari suatu daerah tertentu untuk menjalankan diversifikasi ekonomi dalam DRR harus dikaji secara mendalam guna menjalankan “sustainable development”

    azaleen said:
    13/04/2012 pukul 5:33 pm

    diversifikasi ekonomi
    rasanya hal itu belum pernah terlintas dalam benak saya
    bolehkah saya mengangkat ide anda ini menjadi salah satu bahan KTI saya????
    saya sedang mengadaka penelitian untuk mahasiswa berprestasi
    saya sedang mengambil tema lingkungan hidup dan pengelolaan bencana untuk daerah saya yang memag rawan bencana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s