Organisasi Data Dalam Proyek GIS

Posted on Updated on


organisasi data gis ajiek darmintoProyek bikin peta atau GIS sering memunculkan banyak file. Tidak semua file dibutuhkan sampai akhir. Permasalahannya adalah bagaimana mengorganisasi file, sehingga saat data dibutuhkan kita ambil file yang benar. Bagaimana caranya saat file ingin dipindahkan dari laptop ke PC atau ke media lain tidak terjadi kebingungan.

Pengalaman saya, data hasil sering ditambahkan oke, fix, final, dan sebagainya. Jadi kalau misalnya jalan_ok masih direvisi menjadi jalan_ok1 akan direvisi namanya jadi jalan_oke2, jalan_okesekali, diubah lagi menjadi jalan_okesabtu (karena bikinnya hari sabtu) dan seterusnya. Ketika ingin copy atau akan dilanjutkan teman naahh.. baru kerasa deh..

Saya menulis ini terinspirasi pekerjaan-pekerjaan GIS saya, melengkapi tulisan Mas Raharjo (http://raharjo.org) mengenai “Mengapa hardisk cepat penuh?” serta keluhan teman pemilik konsultan perencana di Jogja dengan pertanyaan yang hampir sama, “Kenapa teman-teman senang bikin penuh hardisk kantor ya mas? Tidak mau delete file yang sudah lama. Terutama untuk GIS dan AutoCAD.”  Seorang teman pernah menjawab dengan enteng: “biar aman mas”. Aman tapi boros tempat.

Ada beberapa tips dari saya yang mungkin berguna:

1. Disiplin. Ya, itu modal dasar dalam organisasi data. Disiplinkan penyimpanan data. Jangan mudah pindah folder atau directory kerja. Tempatkan file pada lokasi yang tetap dan konsisten.

2. Pisahkan jenis data dalam folder yang berbeda. Buat nama folder sesingkat mungkin, hal ini untuk mempercepat pembacaaan dan pencarian data.

  • Doc. Untuk menyimpan file document (word, excel). Tempatkan file disini jika ada data masuk.
  • Jpg. Untuk menyimpan image, logo, dan file-file raster. Bisa juga peta hasil scan sebelum diolah maupun peta hasil.
  • Mxd atau Apr. Untuk  menyimpan file kerja ArcGIS (mxd) atau ArcView (apr). Semua project disimpan disini, bukan pada root.
  • Shp. Untuk data-data shapefile. Konsistenkan penamaan, lihat poin 4.
  • Avl. Untuk menyimpan simbol yang tersimpan (ArcView).
  • Txt. Untuk menyimpan script, catatan/notes, log file atau histori pekerjaan.
  • Rar atau Zip untuk file compress. Simpan dan ekstrak file disini kemudian, distribusikan kembali ke folder-folder diatas.

3. Beri nama file dengan singkat, misal Administrasi: adm, penggunaan lahan:pl, curah hujan: hujan, dan seterusnya. Kembali hal ini untuk merapihkan data, mempercepat loading dan adanya kecenderungan untuk menambahkan nama dibelakangnya. Misal untuk administrasi kabupaten gunung kidul, sebaiknya ditulis: adm_kabgk.shp.

4. Konsistenkan penamaan. Jika identitas tambahan pake angka, ya pake angka, jika pakai tanggal ya tanggal terus secara konsisten. Tips untuk menggunakan tanggal: urutkan dengan TahunBulanTanggal misal: adm_kab110413 artinya peta administrasi kabupaten yang dibuat/diedit tanggal 13 April 2011. File akan otomatis tersusun sesuai urutan waktu, file lama diatas dan file baru ada dibawah.

5. Manfaatkan description/meta data yang ada untuk melacak dan memberi identitas file. Tidak cukup mudah tapi lumayan berhasil.

6. Siapkan satu buku tulis. Manual tapi sangat ampuh. Buku ini untuk menuliskan perkembangan pekerjaan sekaligus penamaan file. Mungkin Anda berfikir, kenapa tidak pake MSword atau notepad saja? Menurut pengalaman saya yang terakhir ini tidak ampuh. Satu buku bisa untuk beberapa proyek, tapi pisahkan secara tegas batasnya. Kuncinya kembali ke langkah satu yaitu disiplin.

7. Backup file hasil dalam tempat terpisah dan tambahkan sedikit keterangan dengan notepad: dimana file asli dikerjakan. Notepad tentu saja diletakkan di folder txt. Penting untuk memastikan salah penempatan file. Backup melalui hardis eksternal atau ke internet sama saja (misal ziddu.com). Rutin backup. Namanya backup tentusaja tidak untuk kerja.

Tujuh langkah sederhana ini akan menghindarkan file-file yang tidak terdeteksi statusnya sehingga ikut dibackup atau tersimpan dalam hardisk. Ketika selesai semua anda pasti tahu file mana saja yang penting, mana yang boleh dibuang. Dokumentasikan dalam kepingan CD/DVD agar lebih aman, simpan dalam case yang bersih, beri cover dan tanggal yang jelas.

Ada masukan atau komentar? Silakan.

Ajiek Darminto

23 thoughts on “Organisasi Data Dalam Proyek GIS

    Didit A - One Step Learning said:
    13/04/2011 pukul 3:46 pm

    sip., mantab., nice infonya. hal ini memang cukup banyak membantu ketika kita sudah melakukan dalam waktu yang relatif lama. mungkin awalnya terasa ribet. tp cukup efektif untuk proses versioning, documentation and repository.

    aq mungkin mo quote yg no.2 mas. cocok kaya’nya utk diterapkan.

    salam.

    ajiekdarminto responded:
    13/04/2011 pukul 3:49 pm

    Monggo mas didit. Weh ini mung sharing, semoga membantu ya… Saya sering kualahan dan bikin pusing banyak file yang belum tentu kepake. Pengalaman ReKOMPAK juga ada disitu secara implisit. Terima kasih komentarnya. Mungkin bisa dikembangkan atau ditularkan.

    ajiek

    andiyuniar said:
    14/04/2011 pukul 4:13 pm

    Bagus tipsnya, Aku juga mengalami masalah yang sama. Apalagi kerjaanku, dalam satu projek, dikerjakan oleh tim yang terdiri dari 2-5 orang.

    Begitu semua data di gabungkan, MUMET. Masing-masing orang punya cara sendiri dalam hal kasih nama. Kadang2 ada juga yang suka kasih nama file sak ‘geleme dewe’ gak mencerminkan konten isi filenya.

    Kalo aku yang jadi pimpro nya, biasanya aku bikin guide singkat tentang struktur folder dan nama file. Lek ra manut, yo gari tak kon ganti. KUDU BENER pokoke. 😀

    ajiekdarminto responded:
    14/04/2011 pukul 4:59 pm

    Mas Andi, sepertinya hal-hal kecil ini bisa di SOP-kan dan ditaati bersama. Jika tidak akan tersita banyak waktu, mengerjakan peta-peta yg sebenarnya sudah dikerjakan, ribet dan tidak teratur.

    Poin nomer 6 saya rasakan besar pengaruhnya… coba deh.

    ajiek

    Wigati said:
    15/04/2011 pukul 8:31 am

    good..terima kasih banget tipsnya…ini sangat bermanfaat buat aku dan teman-teman..

    Beni Raharjo said:
    26/04/2011 pukul 11:22 pm

    Tulisannya sangat bagus, ada solusi yang ditawarkan.
    Terima kasih mas atas linknya.

    Mengapa Harddisk Cepat Penuh? « raharjo.org said:
    26/04/2011 pukul 11:27 pm

    […] FYI: Tulisan bagus tentang Organisasi Data Dalam Proyek GIS. […]

    jelita azka madina said:
    10/05/2011 pukul 10:09 pm

    good tips….thx banget ya…!

    ohisa said:
    16/05/2011 pukul 11:34 am

    mas Ajiek

    aku masih sangat pemula nih, untuk masalah GIS, kemaren ada tugas bikin peta karena aku ambil mata kuliah Sistem Informasi Geografis. Pas browsing2 tentang cara membuat peta, aku nemu blognya mas Ajiek

    btw, aku menggunakan ArcView, tapi aku masih agak kurang ngeh ini tentang bagaimana cara kita menempatkan shape yang sudah kita bikin, apalagi membuat koordinatnya

    ada tutorial yang bisa aku baca lebih lanjut mas?
    makasih lho

    paniki said:
    27/05/2011 pukul 7:53 am

    Disiplin dalam File (and Folder) Management sudah saya jadikan standar yang harus diterapkan oleh para yunior saya. Sebab, penguasaan IT tanpa disiplin FFM berpotensi menghambat pekerjaan.
    Tambahan dari saya :
    Dalam bidang pekerjaan saya, terdapat file shp dan avl yang selalu digunakan di hampir setiap project, misalnya pulau atau garis pantai, sungai, jaringan jalan, topografi, batas adm pemerintahan, titik pemukiman dll. File-file jenis ini saya tempatkan dibawah direktori D:\basis_data\nama_folder\. File-file lain akan ditempatkan di folder lain sesuai kategori dibawah direktori D:\ misalnya pertambangan, perkebunan, transmigrasi dll (yah, mirip ilustrasi gambarnya mas Ajiek di atas) yang berisi hanya file miliknya sendiri, sedangkan file yang bersifat umum (dalam project) tetap merujuk ke file di dalam direktori D:\basis_data\. Karena saya tidak ingin ada duplikasi file yg sama.

    Indri said:
    27/05/2011 pukul 8:03 am

    Tipsnya ok ni Mas Ajiek.
    Sy jg baru belajar dan menjalankan tips yg no.2 (awalnya sy melakukan ini stlh melihat pekerjaannya teman). Di dalam folder shp, ada pembagian folder lagi, misal folder administrasi, folder kemiringan, folder tutupan lahan, dll. Ada jg yg dijadiin folder point, line, dan polygon/area. Begitulahhh, awalnya sy jg merasa ribet, tapi ternyata ngaruh jg dan sangat membantu.

    Terimakasih Mas atas link-nya🙂.

    bebas sinuhaji said:
    27/05/2011 pukul 2:27 pm

    wow tips yang bermanfaat. Pekerjaan jangka pendek atau kerja mandiri memang tidak begitu ngaruh, tapi kalau kerja tim membantu banget. sukses mas Ajiek. Tulisan lainnya masih ditunggu.

    Nazib Faizal said:
    27/05/2011 pukul 11:20 pm

    izin share mas..thanks artikelnya.

    Asteroid said:
    30/05/2011 pukul 6:30 am

    Ass..
    Syukron bwt artikelnya,smg brmanfaat untuk kita semua..;)

    ajiekdarminto responded:
    31/05/2011 pukul 12:57 am

    Silakan mas Nazib, mo dilengkapi akan lebih baik. Saya sebelumnya juga terinspirasi tulisan mas beni raharjo (yang saya sertakan link-nya). Semoga bermanfaat mas… infonya dibagikan, insya ALLAH berkah mas🙂

    ajiek

    ajiekdarminto responded:
    03/06/2011 pukul 4:49 am

    Untuk Mas Paniki, share yang bagus mas. Sangat berguna tipsnya agar tidak terjadi duplikasi file, hemat tempat dan mempercepat kerja. Cocok untuk pekerjaan yang dilakukan berulang-ulang dan memerlukan informasi mirip.

    Sedikit yang membedakan disini adalah tingkat kebutuhan user (pengguna) gis cukup beragam. Anggap saja user/client meminta file-nya agar bisa dibuka di rumah atau di laptop mereka. Jika tidak disatukan dalam satu folder maka kemungkinan besar akan ada data yang tidak dapat tayang. Client tentusaja akan komplain dan kita kerja dua kali.
    Namun hal ini sangat menguntungkan jika client hanya meminta hardcopy/cetakan/jpeg/pdf-nya saja. Sementara file gis kita yang pegang.

    Diperlukan kejelian dalam mengelola file-file ini. Masing-masing menawarkan solusi. Good Mas Paniki..terima kasih.

    ajiek

    sambelalab said:
    09/06/2011 pukul 9:57 am

    keren maass.. kayaknya bukan cuma file GIS yang harus dibeginikan..
    semuah jenis kerjaan PC niy..
    boleh ijin publikasinya mas,, mau ta’ repost di blog ku,, info ini seharusnya diketahui semua orang lho.. ta’ cantumin backlinknya

    ajiekdarminto responded:
    15/06/2011 pukul 6:40 am

    Salam kenal mas, silakan kalau mo di repost. Senang bisa bermanfaat…😀

    ajiek

    Nur Said said:
    11/10/2011 pukul 2:10 pm

    mantab kang.nais inpo. akan saya terapkan ke kerjaan saya berikutnya.haha…🙂
    ijin ngepost yo kang ke anak-anak geografi calon geograf selanjutnya.
    terutama anak-anak GEGAMA,hehe…😛

    ajiekdarminto responded:
    15/10/2011 pukul 8:27 pm

    Dab Nur Said, matur nuwun supportnya. Insya ALLAH bermanfaat yaa… semoga membantu kerja. Saling belajar lah…. tau sendiri ilmuku belum ada apa-apanya. Jih butuh banyak ngangsu kawruh. Punya sedikit ya ini, tak bagi-bagi… he he… salam nggo konco GEGAMA. Saranku sekretariatnya di Cut-Paste aja. Biarkan bentuk semula… Salam lestari

    Mengapa Harddisk Cepat Penuh? : Beni Raharjo said:
    27/03/2014 pukul 11:05 am

    […] FYI: Tulisan bagus tentang Organisasi Data Dalam Proyek GIS. […]

    dewa putu am said:
    01/11/2015 pukul 7:14 am

    trimakasi tipsnya :))
    coba ahhh

    egi septiana said:
    01/11/2015 pukul 10:01 pm

    Bener banget mas, dat bener-bener harus di simpan dengan rapih dan teratur. Soalnya dapet datanya susah lagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s