Peta Risiko Bencana tidak Relevan untuk Tata Ruang

Posted on Updated on


Ya. Peta Risiko Bencana tidak relevan dan tidak dapat digunakan sebagai pertimbangan tata ruang wilayah. Peta tata ruang memuat informasi perencanaan dimasa mendatang. Artinya peta ini merupakan alokasi ruang, baik struktur maupun pola-nya di masa mendatang.

Mengapa tidak relevan? Peta Risiko Bencana merupakan peta turunan (setidak-tidaknya) dari peta bahaya dan peta kerentanan. Peta bahaya merupakan potensi merusakkan proses atau situasi. Sementara kerentanan merupakan kondisi suatu komunitas yang mengarah pada ketidakmampuan dalam menghadapi bencana. Bertemunya bahaya dan kerentanan menghasilkan risiko. Artinya risiko bencana akan semakin tinggi jika bahaya dan atau kerentanan tinggi dan bertemu pada satu ruang yang sama. Jadi jika bahaya tinggi berada pada tempat/ruang yang berbeda dengan tingginya kerentanan maka tidak akan menghasilkan risiko bencana.

Hasil dari peta risiko adalah klas risiko bencana. Bisa tiga kelas, bisa lima kelas, dari risiko rendah, risiko sedang dan risiko tinggi. Seperti diuraikan diatas, jika risiko rendah berarti hanya salah satu faktor saja yang bekerja. Mungkin bahaya saja, mungkin juga kerentanan saja. Anggap saja zona ini zona risiko hijau. KetidakRELEVANan terjadi ketika, peta tata ruang mengacu pada risiko bencana, sementara ditunjukkan dengan risiko rendah. Padahal bahaya besar yang ada disana. Risiko rendah, karena tidak ada penduduk disana. Jebakannya adalah alokasi pertumbuhan, arah pengembangan penduduk dan aktifitas penduduk di-rencana-kan ke daerah hijau tadi.

Sehingga, perjalanan daerah risiko rendah berubah menjadi risiko sangat tinggi, karena aktifitas tersebut. Jadi ada kesenjangan antara data /peta risiko bencana untuk perencanaan ruang (tata ruang). Jika disarikan antara lain:

  1. Peta risiko bencana merupakan interaksi antara peta bahaya dan peta kerentanan. Risiko muncul ketika kedua hal tersebut bertemu.
  2. Risiko rendah dapat berarti bahaya tinggi atau kerentanan tinggi, namun tidak bertemu pada satu ruang yang sama.
  3. Perencanaan ruang (tata-ruang) merupakan alokasi sumberdaya untuk mencapai kesejahteraan di masa mendatang.
  4. Peta Risiko mengandung pengertian digunakan untuk saat sekarang. Sementara peta tata ruang mengandung pengertian waktu masa mendatang.
  5. Jika dipaksakan dan tidak hati-hati, daerah dengan risiko rendah dialokasikan untuk perencanaan ruang terutama untuk budi daya atau aktifitas semacamnya. Serta merta peta risiko akan berubah menjadi risiko sangat tinggi. Hati-hati.
Solusinya adalah, gunakan peta BAHAYA sebagai peta rujukan untuk tata ruang. Peta bahaya relatif lebih tetap, tidak banyak berubah dan lebih relevan. Tingkat relevansinya sebagai berikut:
  1. Daerah memiliki bahaya tinggi berarti berpotensi memiliki risiko tinggi.
  2. Jika daerah bahaya tinggi dihindari maka tidak akan terjadi risiko tinggi. Sebaliknya, jika daerah bahaya tinggi tetap dialokasikan ruangnya untuk aktifitas dan sumberdaya maka tingkat risiko tinggi.
  3. Risiko tinggi berarti ancaman jiwa dan aset pun tinggi. Bukankah manajemen bencana berawal dan berujung pada penyelamatan jiwa.
Mahalnya proses perencanaan (dan perencanaan ruang) diperlukan kejelian dalam mensikapi fenomena spasial wilayah. Korban jiwa dan kerugian aset seharusnya bisa dihindarkan dengan perencanaan yang benar. Daerah yang tahan bencana menjadi idaman.
Semoga tulisan ini menggugah dan membuka ruang diskusi. Jika ada pendapat yang berbeda, saya lebih senang untuk berdiskusi, silakan berkomentar. Atau kirim email ke ajiekdarminto@gmail.com
ajiek darminto

8 thoughts on “Peta Risiko Bencana tidak Relevan untuk Tata Ruang

    arif said:
    06/07/2011 pukul 9:02 am

    ini mengenai peta bencana kah? sepertinya peta2 mengenai hal tersebut baru sebatas bisa “dinikmati dan dibaca” oleh kaum akademis dan pihak2 tertentu. klo misalnya bisa berbagi dgn kebanyakana masy yg lebih luas kn bisa berbagi bersama utk preventif dan mengurangi resiko..CMIIW

    ajiekdarminto responded:
    06/07/2011 pukul 9:16 am

    Terima kasih tanggapannya mas arif. Mungkin saja benar, sementara kita masih sibuk dengan urusan ekonomi, pemerataan kesejahteraan dan pengentasan kemiskinan. Bencana sering luput dari perhatian, apa lagi mitigasinya. Hal ini menjadi sangat menarik.

    Jika masih ingat gempa Jogja 2006, ingat juga kah ada program Indonesia bagian Timur (Intim)? Sepanjang pengetahuan saya gempa Jogja menyedot 5-6 Triliun alokasi untuk Indonesia bagian timur. Mahal? ya sangat mahal.

    OAS (asosiasi negara amerika) menghitung seharusnya kita bisa berhemat separo dengan merencanakan semua itu. Merencanakan semua aspek kebencanaan sebelum bencana itu benar-benar melanda.

    Sekedar info saja, seluruh desa di Bantul (75 desa), 9 desa di Sleman, 6 Kelurahan di Kota Yogyakarta, 5 desa di Gunungkidul dan 13 desa di Kulon Progo telah memiliki peta bahaya, peta risiko bencana, berikut mitigasinya pada tingkat desa. Peta ini disusun secara partisipatif dengan program pemberdayaan masyarakat. Semoga tingkat komunitas lebih siap daripada pemerintahnya. Karena komunitas menjadi pondasi pokok ketahanan bencana. Begitu… nice share…🙂
    ajiek

    Ridaya Laodnegkowe said:
    07/07/2011 pukul 6:07 pm

    sorry, kok sepertinya perumusan resikonya blm meyakinkan yah? setidaknya bagi saya. Juga dengan “bahaya” dan “kerentanan”. Saya mungkin sudah terasuki pikiran-pikiran resiko di bidnag lain (bisnis dan investasi). So, mungkin perlu juga melacak asal-muasal konsep dan pemahaman geograf ttg ketiganya: bahaya, kerentanan dan resiko

    abdur rahman said:
    11/07/2011 pukul 8:47 am

    Wuih, tulisan-tulisan mu berbobot Mas………. lanjutkan

    Ikhsan said:
    21/07/2011 pukul 11:18 am

    Menurut saya, idealnya Peta resiko dan Bahaya menjadi Inputan Analisa dalam Peta RTRW. namun, kenyataanya peta bahaya dan resiko kebanyakan hanya sebagai sebuah pelengkap Kumpulan peta-peta RTRW.. Bahkan, beberapa RTRW (khususnya RTRWP dan RTRWK) membuat peta Tataruang dalam konteks “membagi ruang untuk pelaku ruang” bukan untuk merencanakan ruang…

    ajiekdarminto responded:
    06/12/2011 pukul 9:12 am

    Mas Ridaya, saya menulis dalam 3 seri untuk menilai risiko. Pada dasarnya risiko dipengaruhi setidak-tidaknya oleh bahaya, kerentanan dan kemampuan. Atau bisa dituliskan Risk = f(bahaya, kerentanan, kemampuan). banyak pendapat yang menggunakan pendekatan risiko dengan
    Bahaya x kerentanan
    Risk = —————————-
    kemampuan

    Tetapi saya menyarankan untuk tidak masuk pada perhitungan matematika. rumusan tersebut merupakan rumusan pendekatan, bukan rumus matematika. Sekali lagi itu menurut pendapat saya. Tetapi jika dipaksakan yaa.. sah-sah saja… namanya juga dipaksakan.

    Nah kenapa BAHAYA yang lebih diperhitungkan? Coba deh lihat jika anggap saja pada lokasi dengan kerentanan yang tetap, yang bekerja Bahaya dan kemampuan saja. Tingkat risiko bencana pada bahaya tinggi dan kemampuan tinggi menghasilkan Risiko RENDAH.

    Risiko rendah jika dijadikan acuan penataan ruang (pola+struktur) dapat memicu alokasi ruang untuk budidaya atau pertumbuhan penduduk. Seolah-olah daerah ini aman.

    Coba kita lihat lagi. Faktor bahaya cenderung tetap, bahkan bisa meningkat. bagaimana dengan faktor kemampuan masyarakat. Faktor ini cenderung menurun, apalagi terjadinya migrasi masuk dengan tingkat pengetahuan yang sangat berbeda.

    Ada dua hal dalam mitigasi non fisik dalam pandangan dan pendapat saya. Pertama adalah pengetahuan. Masyarakat tahu dan paham mengenai apa yang ada disekeliling mereka dan tahu harus melakukan apa, harus kemana dan sebagainya. Sepertinya pengetahuan ini menjadi ujung dan penyelesaian masalah bencana. ternyata tidak. Ada faktor kedua, yaitu pelatihan. Pelatihan untuk membangun reflek. Saat panik pengetahuan cenderung tereduksi dan bahkan hilang, namun reflek yang bekerja. Nah pelatihan menutup kekurangan pengetahuan ini. So… dua-duanya penting. Tergantung teman-teman perencana dan kita semua.

    SUDAH SIAPKAH KITA DENGAN BENCANA BERIKUTNYA?

    neezisnis said:
    02/02/2012 pukul 4:18 pm

    permisi sy ingin bertanya mas,

    peta bahaya di sini sama dengan peta potensi bencana ngga? dibuatnya per bencana atau holistik semua bencana alam dan non alam? terus yg bikin itu BNPB dan BNPD bukan? kalau bukan kira2 siapa y?

    kemudian kerentanan tsb dihitungnya berdasarkan daya dukung lahan saja bukan?atau ada yg lain?

    ajiekdarminto responded:
    16/06/2013 pukul 6:55 pm

    Terima kasih mas Handoko tanggapannya.

    Gini dalam praktek jika kita menggunakan peta risiko bencana, kurang lebih akan muncul:
    * zona tingkat risiko tinggi
    * zona tingkat risiko sedang
    * zona tanpa risiko atau risiko rendah

    Jika dipaksakan menggunakan peta risiko ini. Tata ruang akan mengalokasikan pada daerah risiko rendah sebangai pemanfaatan ruang budidaya, misalnya kawasan pengembangan permukiman dan industri.

    Mas tahu, bahwa risiko dipengaruhi oleh faktor: bahaya dan kerentanan. Anggap saja ketahanan/kemampuan tetap. Kerentanan muncul karena adanya exposure pada manusia atau aktifitasnya. Artinya pada daerah dengan BAHAYA tinggi namun tidak terdapat manusia disana, maka bisa dikategorikan tanpa risiko atau risko rendah.

    Coba kaitkan dengan pemanfaatan ruang yang mendasarkan pada peta risiko tadi. Hati-hati jika alokasi ruang dimanfaatkan sesuai arahan tingkat risiko bencana, maka bisa jadi tiba-tiba daerah tersebut masuk dalam kategori Zona dengan tingkat risiko tinggi.

    Saya lebih setuju untuk menggunakan peta BAHAYA dalam mengalokasi/merencanakan pemanfaatan ruang. Bahaya relatif statis dan faktornya sudah terukur. Tidak menggunakan peta RISIKO.

    Saya juga lebih setuju jika Peta Risiko tetap dimanfaatkan namun sangat terbatas untuk mengurangi risiko itu sendiri atau memodifikasi kondisi saat ini. Misal relokasi, reward & punishment.
    Begitu… semoga bisa jadi diskusi lebih lanjut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s