Leason Learned

Diversifikasi Ekonomi untuk Ketahanan Bencana

Posted on Updated on


ekonomi merapiDiversifikasi atau penganekaragaman, sering disebut dalam perbincangan mengenai pangan. Wacana penganekaragaman ini kemudian diadopsi dalam skala yang lebih luas terkait dengan kebencanaan. Penganekaragaman ini dapat menjadi strategi penting dalam pencapaian ketahanan bencana. Keterpurukan aset dan lambatnya recovery sering ditemui pasca bencana. Apa perlunya diversifikasi ekonomi dalam manajemen bencana.

Bencana secara umum akan mengubah banyak hal, termasuk didalamnya adalah aktifitas ekonomi. Belajar dari Merapi, mata pencaharian utama penduduk di lereng (terutama lereng selatan) adalah ternak dan pertanian. Bencana di akhir tahun 2010 mengubah semuanya. Aset penduduk berupa ternak tidak mampu lagi menopang kehidupannya. Pertanian demikian pula. Kondisi berikutnya adalah, hilangnya mata pencaharian utama dan tentusaja pendapatan. Keberdayaan dalam sektor ekonomi menjadi lumpuh.

Secara sederhana, semakin beranekaragam sumber penghidupan ekonomi, maka semakin besar kemungkinan untuk bertahan hidup. Jika memiliki satu sumber ekonomi, maka ketika terjadi bencana dan mengakibatkan kelumpuhan sumber tadi, maka tidak ada alterntif. Berbeda jika memiliki lebih dari satu, jika satu rusak maka masih ada beberapa lain yang bisa dijadikan sandaran ekonomi. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Gunung Merapi (1)

Posted on Updated on


Gunung Merapi menjadi topik hangat berita belakangan ini. Julukan Most Active Volcano In The World agaknya sangat beralasan. Merapi unik. Mungkin sudah ratusan alat (sensor) dipasang untuk memantau gunung ini sejak puluhan tahun yang lalu.

Gunung Merapi dari citra satelit Landsat TM

Bahaya volkan ini melengkapi warna bencana di DIY. Selain potensi gempa tektonik dan potensi tsunami pada sisi selatan, potensi longsor disisi barat, kekeringan pada sisi tenggara, Merapi menempati sisi utara. Inilah menariknya Jogja. Tumpuan ekonomi pada sektor wisata masih menjadi primadona, meskipun memiliki kerentanan bencana. Data resmi yang ada, sektor properti paska bencana sedang mengalahkan sektor ini. Baca entri selengkapnya »

Mengapa Sektor Informal Sering Terlambat Ditangani dalam Recovery?

Posted on Updated on


ajiekdarminto.worpress.comSaya mencoba mendalami dari beberapa informasi untuk menjawab pertanyaan diatas. Sektor informal ini tidak mudah tersentuh oleh proses rekonstruksi dalam kerangka besar recovery. Sektor ini terpinggirkan karena alasan administrasi sehingga keberpihakan yang lemah. Alasan klasik agaknya menjadi pertimbangan. Sektor informal sering tidak terdata dan didampingi oleh data yang valid. Sementara itu sektor ini ada secara riil. Kawasan Phuket agaknya bisa menjadi tempat belajar yang cukup bagus.

 ajiekdarminto.wordpress.ocm

Gempa bumi dengan kekuatan 9,3 skala richter (versi kedua 8,9 SR) yang terjadi 26 desember 2004 menelan banyak lebih dari 150.000 korban tewas (Wikipedia, 2007). Efek ikutan gempa dengan kedalaman 10 km di 160 km Banda Aceh,  yaitu gelombang tsunami. Setidaknya terdapat 8 negara yang terkena dampak langsung, yaitu Indonesia, Srilanka, India, Bangladesh, Maladewa, Somalia, Malaysia dan Thailand.

Kawasan Phuket, Thailand, merupakan kawasan turis yang terkena dampak terbesar di Thailand. Korban jiwa di wilayah tersebut menurut Wikipedia mencapai 5305. Kerugian terbesar pada sektor parwisata. Sektor ini merupakan matapencaharian sebagaian besar penduduk Phuket.

Aktifitas ekonomi lokal menjadi salah satu indikator ketahanan akan bencana. Tanpa pertukaran uang dalam berbagai aktifitas, maka kelangsungan hidup, perjuangan untuk pemulihan menjadi sangat terbatas. Para korban harus segera membangun kembali rumah dan lingkungannya.

Wisatawan paska tsunami masih membatasi diri untuk bepergian ke lokasi yang terkena dampak tsunami. Laporan media dan persepsi turis mempengaruhi persepsi turis yang akan datang. Media berperan besar dalam industri ini. Wisatawan tidak ingin ‘pencarian surga’ berubah menjadi bencana yang menakutkan. Baca entri selengkapnya »