Humanity

Pendaftaran CPNS

Posted on Updated on


Sebelum mendaftar menjadi CPNS, tanyakan dulu betul-betul, KENAPA saya harus mendaftar! Saya melewatkan pertanyaan ini dan akhirnya ikut-ikutan teman untuk antri, kirim formulir, ujian dan bolos kerja kalo perlu. Bukan menjadi PNS itu buruk loh ya.. saya sedang mencoba melihat dari sudut yang berbeda

Sejauh amatan dan yang saya rasakan setidaknya ada beberapa alasan mengapa banyak orang ingin menjadi PNS, diantaranya:

  1. Gaji tetap
  2. Pekerjaaannya tidak terlalu sulit
  3. Punya pensiunan
  4. SK-nya Bisa untuk kredit-kredit
  5. Status sosial

Mungkin sedikit naif melihat alasan-alasan diatas. Setidaknya saya mengalaminya. Saya bertahun-tahun mencoba lowongan PNS, banyak departemen dan badan selama beberapa tahun, ternyata kami (Saya & yang saya lamar) tidak berjodoh. Berarti tidak ada kecocokan, he he he… no problem

Cek lagi deh:

  1. Gaji tetap. Sepertinya enak dan pasti. Kalo tetep terus apa enaknya, kebutuhan lain bertumbuh, sementara gaji kita tetap. Apa enaknya coba?
  2. Pekerjaannya tidak terlalu sulit. Kebanyakan melakukan rutinitas yang tidak perlu banyak kreatifitas dan berfikir keras. Mungkin ada yang sangat-sangat aktif, berdedikasi sehingga berfikir keras. Tapi orang ini tidak lebih 5%. Yang sibuk-sibuk yang selo… selo. dan banyak
  3. Punya pensiunan. Seriuus?? Bener?? ini yang dicari. Punya saudara yang sudah pensiun? Tanya deh ama yang sudah pensiun.. apakah seindah yang kamu bayangkan. Rata-rata mereka akan bilang, ‘berapa sih uang pensiun?’
  4. SK-nya bisa buat kredit-kredit.. betul! Lembaga keuangan sangat suka. Tapi Anda akan ter’penjara’ hutang seumur hidup. Apalagi pendapatan tetap.
  5. Status sosial, memang tidak sedikit yang mengejar ini. Perginya jelas, pulangnya jelas, lembaganya jelas. Berbeda dengan pebisnis. Bisa jadi tidak menetap dalam satu waktu lama di suatu kota. Tapi dia punya banyak tempat bisnis dan berkembang, tidak terlihat.

Yang baca boleh protes atau tidak setuju dengan saya. Silakan komment dibawah yaa.. Biasanya mereka PNS untuk status, tapi untuk kaya, milih jalur berbisnis. Ada yang part-time ada yg fulltime.

Kebanyakan kita berbisnis setelah pensiun. Kenapa tidak Sekarang saja bisnisnya? Bisnis HERBALIFE saja yuk, halal barokah!

Iklan

Lapangan atau Keluarga, bukan pilihan…

Posted on


Program Rehabilitasi dan Rekonstruksi Masyarakat dan Permukiman Berbasis Komunitas (REKOMPAK) Merapi datang sebagai solusi dalam membangun kembali permukiman yang rusak akibat bencana. Awalnya, bencana Gempa 2006 membawa program REKOMPAK ke Yogyakarta dan Jawa Tengah. Program serupa kini berada pada lokasi pasca bencana Gunung Merapi 2010.

Arif Prasetya, 38 th, merupakan sosok fasilitator REKOMPAK, seorang pemberdaya masyarakat di wilayah lereng selatan Merapi. Totalitas kinerja dan kemampuan dalam keteknikan digunakan untuk memberdayakan masyarakat. Program rencana penataan permukiman telah selesai dikerjakannya bersama tim dengan baik.

Suami dari Yuzrita (32 tahun), ini juga merasakan mengungsi seperti halnya korban erupsi lainnya. Dia dan keluarganya tahu betul apa yang dirasakan masyarakat di lereng selatan Merapi. Jiwa dan keluarganya terancam becana. Rumahnya di Manisrenggo hanya 15 km dari puncak Merapi, masuk zona bahaya saat erupsi dahulu.

Pemahaman akan lokasi dan pengalaman yang dilaluinya mampu mengatarkan tidak hanya target proyek yang terpenuhi namun kemanfaatan luarbiasa pada lokasi. Tim Inti Perencana (TIP) Desa mampu bekerja maksimal menyusun dokumen perencanaan, meskipun pada lokasi sulit (area terdampak langsung).

Banyak hal yang dilaluinya di REKOMPAK. Ilmu pemberdayaan yang jauh dari disipllin keilmuannya, ilmu pemetaan, dan keruangan pun dikuasainya sekaligus. Saat ini, laki-laki lulusan Teknik Sipil Universitas Cokroaminoto Yogyakarta, menjadi asisten, sekaligus tokoh panutan di Korlap 2 Merapi. Petani klengkeng, yang bercita-cita bertani madu, ini pun masih sempat memperhatikan tanamannya di pagi hari sebelum berangkat lapangan.

Hari-harinya bersama buah hatinya, Muhammad Zaki (4 th) dan Zia Armita (1,5 th), dilalui diantara jadwal lapangan yang padat. Disela-sela pekerjaannyapun masih sempat menanyakan kabar anak-anaknya dirumah menggunakan HP merk Cross warna hitam yang berbalut silikon karet warna yang sama.

Banyak Arif-arif lain di REKOMPAK, dedikasinya tinggi bekerja optimal, tanpa melupakan keluarga. Selamat buat pemberdaya sejati REKOMPAK, mampu merangkul jariyah dunia dan ridho akhirat.

Ujung dari Pengurangan Risiko Bencana

Posted on Updated on


Tiba-tiba ingat teman yang bilang kurang lebih begini, “… tangguh bencana, apa hubungannya dengan kesejahtaraan”. Waktu itu kami sedang diskusi tetang visi misi desa dampingan. Dengan sedikit senyum, seolah saya yang mengada-ada, waktu itu saya setuju tangguh bencana berada di depan kata-kata kesejahteraan.

Dari facebook Azis Setyawan (thanks bro)Dari facebook Azis Setyawan

Kami sedang berdiskusi dengan warga, untuk mereview visi misi desa. Tangguh bencana dan kesejahteraan sekilas memang tidak ada hubungannya. Mungkin yang dimaksud teman tadi, yang berhubungan dengan kesejateraan mungkin sebatas peningkatan pendapatan, lapangan pekerjaan, produktifitas lahan yang tinggi, pasar yang luas, profit yang tinggi, tanah subur dan seterusnya…

Jawaban saya mudah, “apakah itu bisa terjadi ada jika terkena bencana?” Logikanya adalah bencana itu merusak dan mahal. Jika mampu bertahan dan mengatasi potensi kerusakan bukankah itu juga menjadi lebih sejahtera? Recovery bencana itu luar biasa mahal. Coba kita lihat beberapa bencana besar:

  • Tsunami Aceh (2004) nilai kerugiannya Rp. 46,7 Trilliun
  • Gempa Yogya (2006) nilai kerugiannya Rp.29,2 Trilliun
  • Erupsi Merapi (2010) nilai kerugiannya Rp.3,2 Trilliun (angka sementara)
  • Total dari ketiga bencana tersebut Rp. 79,1 Trilliun, kalo ditulis lengkap Rp.79.100.000.000.000,00

Coba ambil kalkulator dan buat estimasi sederhana, kita bikin program kecil kelompok UKM peternak ikan lele beranggotakan 5 orang dengan modal stimulan Rp.5.000.000,00 akan ada 15.820.000 kelompok UKM atau 79.100.000 orang berdaya akan ekonominya dan Insya ALLAH lebih sejahtera. 79 juta artinya 30% penduduk Indonesia.

Bencana mungkin bagian dari nasib, tetapi bukankah manusia diberi akal dan pikiran untuk mengubah nasib tadi?

Bagaimana pendapat teman-teman?

 

(foto diambil dari facebook Aziz Setyawan. Nuwun Zis.

Peta Risiko Bencana tidak Relevan untuk Tata Ruang

Posted on Updated on


Ya. Peta Risiko Bencana tidak relevan dan tidak dapat digunakan sebagai pertimbangan tata ruang wilayah. Peta tata ruang memuat informasi perencanaan dimasa mendatang. Artinya peta ini merupakan alokasi ruang, baik struktur maupun pola-nya di masa mendatang.

Mengapa tidak relevan? Peta Risiko Bencana merupakan peta turunan (setidak-tidaknya) dari peta bahaya dan peta kerentanan. Peta bahaya merupakan potensi merusakkan proses atau situasi. Sementara kerentanan merupakan kondisi suatu komunitas yang mengarah pada ketidakmampuan dalam menghadapi bencana. Bertemunya bahaya dan kerentanan menghasilkan risiko. Artinya risiko bencana akan semakin tinggi jika bahaya dan atau kerentanan tinggi dan bertemu pada satu ruang yang sama. Jadi jika bahaya tinggi berada pada tempat/ruang yang berbeda dengan tingginya kerentanan maka tidak akan menghasilkan risiko bencana.

Baca entri selengkapnya »

Mengapa Sektor Informal Sering Terlambat Ditangani dalam Recovery?

Posted on Updated on


ajiekdarminto.worpress.comSaya mencoba mendalami dari beberapa informasi untuk menjawab pertanyaan diatas. Sektor informal ini tidak mudah tersentuh oleh proses rekonstruksi dalam kerangka besar recovery. Sektor ini terpinggirkan karena alasan administrasi sehingga keberpihakan yang lemah. Alasan klasik agaknya menjadi pertimbangan. Sektor informal sering tidak terdata dan didampingi oleh data yang valid. Sementara itu sektor ini ada secara riil. Kawasan Phuket agaknya bisa menjadi tempat belajar yang cukup bagus.

 ajiekdarminto.wordpress.ocm

Gempa bumi dengan kekuatan 9,3 skala richter (versi kedua 8,9 SR) yang terjadi 26 desember 2004 menelan banyak lebih dari 150.000 korban tewas (Wikipedia, 2007). Efek ikutan gempa dengan kedalaman 10 km di 160 km Banda Aceh,  yaitu gelombang tsunami. Setidaknya terdapat 8 negara yang terkena dampak langsung, yaitu Indonesia, Srilanka, India, Bangladesh, Maladewa, Somalia, Malaysia dan Thailand.

Kawasan Phuket, Thailand, merupakan kawasan turis yang terkena dampak terbesar di Thailand. Korban jiwa di wilayah tersebut menurut Wikipedia mencapai 5305. Kerugian terbesar pada sektor parwisata. Sektor ini merupakan matapencaharian sebagaian besar penduduk Phuket.

Aktifitas ekonomi lokal menjadi salah satu indikator ketahanan akan bencana. Tanpa pertukaran uang dalam berbagai aktifitas, maka kelangsungan hidup, perjuangan untuk pemulihan menjadi sangat terbatas. Para korban harus segera membangun kembali rumah dan lingkungannya.

Wisatawan paska tsunami masih membatasi diri untuk bepergian ke lokasi yang terkena dampak tsunami. Laporan media dan persepsi turis mempengaruhi persepsi turis yang akan datang. Media berperan besar dalam industri ini. Wisatawan tidak ingin ‘pencarian surga’ berubah menjadi bencana yang menakutkan. Baca entri selengkapnya »

INDONESIA MOST LIVABLE CITY INDEX 2009

Posted on Updated on


Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia telah melakukan penelitian Indonesia Most Liveable City Index, untuk mengetahui persepsi tingkat kenyamanan hidup di kota yang dilakukan di 12 kota besar di Indonesia.

Dalam press releas yang diselenggarakan pada hari Rabu, 12 Desember 2009, Sekjen IAP, Ir. Bernardus Djinoputro, mengatakan bahwa mayoritas besar kota-kota besar di Indonesia dinilai tidak nyaman oleh warganya.

Berdasarkan survey yang dilakukan terhadap warga di masing-masing kota diketahui bahwa Nilai rata-rata (mean) indeks adalah 54,17, dengan persepsi tingkat kenyamanan tertinggi di Kota Yogyakarta yaitu sebesar 65,34 dan persepsi kenyamanan warga yang paling rendah adalah Kota Pontianak dengan indeks 43,65.

Laporan lengkap silakan download disini.

Kota – kota dengan indeks diatas rata–rata adalah : Yogyakarta, Manado, Makassar dan Bandung. Sedangkan kota – kota dengan indeks dibawah rata-rata adalah Jayapura, Surabaya, Banjarmasin, Semarang, Medan, Palangkaraya, Jakarta, Pontianak. Berikut adalah indeks persepsi kenyamanan untuk setiap kota :

1 Yogyakarta 65.34
2 Manado 59.90
3 Makassar 56.52
4 Bandung 56.37
5 Jayapura 53.86
6 Surabaya 53.13
7 Banjarmasin 52.61
8 Semarang 52.52
9 Medan 52.28
10 Palangkaraya 52.04
11 Jakarta 51.90
12 Pontianak 43.65

Berdasarkan survey terhadap persepsi masyarakat yang telah dilakukan diketahui beberapa temuan yang cukup menarik, diantaranya adalah :
1. Kriteria Penataan Kota
Untuk Kriteria Penataan Kota, Kota Palangkaraya memiliki angka prosentase tertinggi dipersepsikan oleh warganya memiliki penataan kota yang baik, yaitu sebanyak 51 %. Kota Palangkaraya meskipun masih jauh dari ukuran ideal, namun memiliki kondisi penataan kota yang cukup baik. Dari sudut pandang lain dapat dikatakan kapasitas akomodasi ruang Kota Palangkaraya terhadap pertumbuhan penduduk masih memadai.
Hal yang sebaliknya terjadi dengan Kota Bandung. Kota dengan persepsi terendah untuk aspek tata kota adalah Kota Bandung hanya 3 %. Artinya bahwa hanya 3 % responden warga Kota Bandung yang menganggap penataan kota Bandung baik, selebihnya 97 % menganggap aspek penataan Kota Bandung buruk.
Angka 3 % ini merupakan angka terendah dari semua kriteria di semua kota, dan itu ada di Kota Bandung. Hal ini mengindikasikan bahwa warga Kota Bandung sangat tidak puas dengan kondisi penataan kota Bandung sekarang. Salah satu hal yang dapat dilihat secara kasat mata adalah indikasi komersialisasi kota yang bergerak terlalu jauh yang merampas ruang-ruang publik yang tentu hal ini dinilai tidak baik oleh masyarakat kota.
Tentu saja indikasi ini harus menjadi perhatian bagi semua stakeholder pembangunan Kota Bandung, baik pihak pemerintah, swasta, akademisi, praktisi dan pihak masyarakat dan swasta untuk ikut mengawal kondisi Tata Kota Bandung menuju penataan kota yang lebih baik.
Pada dasarnya, kepentingan umum seperti perasaan keteraturan, kenyamanan dan keamanan dapat terwujud dengan penataan yang terarah, teratur dan berkualitas. Sehingga dengan demikian kriteria penataan kota ini berdampak besar terhadap aspek kehidupan perkotaan lainnya.

2. Kriteria Ketersediaan Lapangan Kerja.
Untuk kriteria ini warga Kota Jakarta memiliki persepsi yang paling rendah, Baca entri selengkapnya »

Seminar Nasional: Identitas Kota-kota Masa Depan di Indonesia

Posted on Updated on


Diselenggarakan oleh: Departemen Pekerjaan Umum – GMPPR – Hari Bakti PU ke-64 – The Wedhanapura – IAP – IAI

Sanur Bali, 21 Desember 2009

Sub tema:

  1. Green City for The Living
  2. Kota Indonesia yang Adaptif Terhadap Bencana
  3. The City of Enterprise
  4. Smart Growth City

Calls For Papers

  • Batas akhir pemasukan abstrak : 20 November 2009
  • Pengumuman abstrak : 27 November 2009
  • Pemasukan makalah lengkap : 4 Desember 2009

Format

  • Abstrak            : Font Arial 10, spasi 1, maksimum 500 kata
  • Makalah          : Font Arial 11, spasi 1, maks. 10 halaman A4
  • Abastrak dan makalah menggunakan Bahasa Indonesia.

Abstrak dikirim via email ke alamat: Baca entri selengkapnya »