I.T.

ERP pengendali transportasi di Singapura

Posted on Updated on


foto wikipedia.orgERP atau Electronic Road Pricing, merupakan sistem jalan berbayar kalau di Indonesia mudahnya adalah jalan Tol. Tulisan ini terinspirasi saat saya berkesempatan berjalan-jalan sekaligus training Herbalife di Singapore, Mei 2012 lalu.

Pengaturan lalulintas begitu rapih, tertib dan tidak terjadi kemacetan yang berarti. Sangat lain dari keseharian kita, minimal sering diperlihatkan di Tv. Di Singapore, pajak sangat tinggi bahkan pajak kendaraan bermotor hampir sama dengan harga kendaraan itu sendiri. Belum termasuk retribusi dan kewajiban lain. Sehingga jika dinilai, maka harga kendaraan bisa 3x lipat harga normal dari negara produsen. Pada sisi yang sama, pemeritah sama sekali tidak merekomendasikan kendaraan roda dua. Dari ribuan kendaraan roda empat di sana, hanya satu dua pengguna roda dua (motor). Kontras sekali dengan keadaan di Indonesia.

Pengembangan teknologi ERP digunakan untuk memantau arus sekaligus memungut retribusi. Masing-masing pintu perlintasan mudahnya Toll Gate, nggak pake antri. Gate berupa sensor ERP tanpa melibatkan manusia sebagai operator di jalan. Setiap kendaraan yang lewat secara otomatis akan terdeteksi sekaligus membayar retribusi secara elektronik.

Sensor dipasang pula di kendaraan dan pemilik kendaraan wajib mengisi deposit sejumlah nilai uang tertentu untuk keperluan itu. Setiap saat kendaraan lewat, deposit berkurang. Tidak peduli kendaan tersebut kesasar atau memang sengaja lewat. Jadi kalau keliling-keliling kota tanpa tujuan akibatnya boros, dan jika deposit telah habis namun tidak segera diisi maka dendanya lebih besar.  Tidak ada pilihan selain patuh dan tertib aturan.

Peluang penelitiannya adalah jika setiap kendaraan yang lewat tercatat, maka jumlah kendaraan sangat mudah dihitung, tren kepadatan (jam sibuk-tidak sibuk) dihubungkan dengan volume, kemampuan jalan, umur jalan, arah pergerakan, distribusi kepadatan, pengaturan (regulasi), pola sebaran fasilitas dan masih banyak lagi. Kenapa tidak bikin simulasi di Indonesia. Jalan Malioboro misalnya, bukan  soal biayanya tetapi soal traficnya. Ada ide lain?

Sistem ini diterapkan oleh LTA LandTransport Administration Singapore sejak 1998. Bukankah sensor-sensor ini yang sering dipakai balapan Formula 1 (F1)? Jadi sangat mungkin jika Singapore sangat siap jika digelar acara F1 meskipun dijalanan kota. Indonesia kapan ya?

Apa komentarmu?

 

 

Iklan