Kritisi Rumus PRB (1)

Posted on Updated on


Pernah bertemu rumus Pengurangan Resiko Bencana (PRB) ini?


Menurut saya, rumus ini bukan rumus PRB dan atau rumus menghitung Risiko Bencana. Namun jika mau dipaksakan bisa bisa saja. Yang perlu dipahamkan disini adalah hubungan antar faktor penentu risiko bencana. ‘Rumus’ ini adalah pendekatan berfikirnya saja. Sedangkan jika diterapkan secara matematis tentusaja harus disertai dengan argumentasi yang lebih kuat dan lengkap. Faktor terpaan dan ketahanan belum masuk disana.

Pada beberapa kasus saya pernah menemui rumus ini dipakai dengan perbandingan yang sama (faktor: 1). Sehingga nilai kerentanan sebanding dengan bahaya, bagaimana jika terjadi jika bahaya 2x lebih besar energi dan kecepatannya?

PRB adalah Whats Next After The Risk Assesment? Lebih kompleks. Mengenai rumus ini pun saya belum setuju. Coba lihat, misalnya ada masyarakat yang tinggal disuatu kawasan dengan kondisi seperti ini:

  • Permukiman yang tinggal di 50 meter kanan kiri sungai–> vulnerability tinggi
  • Sungai sering banjir–> hazardnya juga tinggi

Jika dinilai dengan rumus diatas, PASTI risikonya tinggi. Tetapi lihat beberapa faktor ini : Baca entri selengkapnya »

Sinkronisasi dokumen perencanaan yang overlap

Posted on Updated on


Salah satu permasalahan yang muncul saat pembuatan suatu dokumen perencanaan adalah adanya perencanaan sebelumnya yang masih berjalan dan memiliki kesamaan. Sehingga terbuka peluang untuk saling tumpang tindih/overlap. Permasalahan akan sedikit lebih mudah jika apa yang akan direncanakan merupakan isu strategis (strategic planning) yang spesifik dan terpisah dari apa yang selama ini ada. Sebaliknya, akan cukup rumit ketika apa yang dikerjakan adalah comprehensif planning yang overlap dan integral dengan kebijakan sebelumnya.

Contoh paling dekat adalah adanya dokumen Community Settement Plan (CSP) / Rencana Penataan Permukiman RPP ReKOMPAK yang akan dibuat, dan mengakomodir setiap perencanaan (misal RPJM Des, PJM Pronangkis & LPMD, PNPM ND). Atau mungkin kasus serupa, apa yang sebaiknya dilakukan?

Baca entri selengkapnya »

Rekonstruksi itu lebih mahal

Posted on Updated on


Fenomena bencana seharusnya menjadikan kita belajar. Bukannya bagaimana nanti. Fokus pada penanganan darurat paska bencana tidak seharusnya dilakukan. Studi oleh Organization of America State (OAS), United States Agency for International Development (USAID) dan Caribbean Disaster Mitigation Project (CDMP) bahwa sektor ekonomi dan pembangunan di negara diarahkan pada investasi dibidang mitigasi bencana ternyata membuat ekonomi lebih tahan dibandingkan dengan semata-mata berkonsentras pada proses rekonstruksi (nantinya). Biaya untuk Rekonstruksi dibandingkan Baca entri selengkapnya »

CSP ReKOMPAK JRF dan perencanaan

Posted on Updated on


ReKOMPAK Jogja dalam program Community Settlement Plan (CSP) atas dana dari Java Reconstruction Fund (JRF) dengan leading sector Departemen Pekerjaan umum menempatkan para pelaku CSP sebagai perencana (PLANNER), terutama ke arah mitigasi bencana. Program CSP ini berjalan di 47 kelurahan di D.I.Yogyakarta. Untuk Kota Yogyakarta dan Kab. Sleman ada di :

  • Kecamatan Kraton (Kelurahan Panembahan, Patehan dan Kadipaten).
  • Kecamatan Kotagede (Kelurahan Prenggan, Purbayan, dan Rejowinangun)
  • Kecamatan Prambanan (Desa Sambi Rejo, Gayam Harjo dan Sumber Harjo)

Semua pelaku menjadi agen perencana bagi masyarakat. Masyarakat disinaoni (diberi pembelajaran) mengenai perencanaan desa/kelurahan. Pelaku utama ada di masyarakat, ini yang dimaksud pemberdayaan. Kecapatan dalam pemahaman di masyarakat tentusaja bergantung atas SDM, data dan waktu yang melekat padanya. Jadi kecepatan serapan, dan tingkat pemahamannya pun akan berbeda-beda.

Sedikit sharing (berbagi) mengenai perencanaan, dimana perencanaan merupakan kegiatan yang berakar dalam setiap perilaku manusia di segala tingkat sosial, mulai dari tingkat individual sampai pada kelompok masyarakat. Pada dasarnya perencanaan ada dalam keseharian. Tetapi menjalankan tugas rutin itu bukan perencanaan melainkan kegiatan yang wajar dan pada umumnya (rutin).

Perencanaan bukan kegiatan yang berdiri lepas dari kegiatan lain. Perencanaan memiliki pijakan yang beranjak realitas dan berkembang atas analisa. Jadi rencana bukan sekedar cita-cita, namun cita-cita yang berdasar. Untuk itu akan lebih baik jika perencanaan dilakukan dengan melibatkan lebih dari satu orang.

Baca entri selengkapnya »

Resilient, Adaptif atau Resisten terhadap bencana?

Posted on Updated on


Isu bencana alam telah menjadi tren yg tiada habisnya mengingat kondisi geografis kita di Indonesia. Sebuah pemikiran yang menggelitik dan mungkin menjadi pertanyaan bersama. Bahwa, bencana boleh sering terjadi tetapi bagaimana kita selalu siap, terkena dampak minimal, atau akibat dampak yang minimal. Belajar dari banyak kasus, sebenarnya di tingkat komunitas kita sadar atau tanpa sadar terbentuk ketahanan terhadap bencana. Ketahanan (resilient) yang terbentuk secara natural menjadikan mereka ‘kuat’ dalam setiap menghadapi bencana.

Sebagai contoh, sebagian masyarakat Gunungkidul mengalami kekeringan yang hebat di musim kemarau. Mereka tahu bakal selalu terjadi, dan selalu dapat bertahan. Mereka mengeluarkan sejumlah uang untuk membeli air, bagi yang mampu. Atau berjalan berkilo-kilo untuk mengambil air. Toh dapat juga bertahan hidup. Antara terpaksa, dan bertahan.

Dengan contoh kasus diatas, penduduk tersebut tahan bencana (resilient) atau sedang melawan bencana (resistant) atau sebenarnya mereka beradaptasi? Antara TAHAN, RESISTEN dan ADAPTIF. Apa bedanya?
Mohon masukan

Nilai, bagian dari intangible heritage…

Posted on Updated on


Nilai

Nilai, ragam maknanya, jika menengok kamus bahasa Indonesia mengandung terminologi

“harga dalam arti taksiran harga; harga sesuatu; angka kependalaman; kadar; mutu; banyak sedikitnya isi”.

Bagaimana jika kita membicarakan dan sedikit menganalisa mengenai nilai-nilai yang ada di sosial kemasyarakatan terutama di kawasan heritage, apakah juga mengandung pengertian yang sama? Jika kita asumsikan nilai di sosial kemasyarakatan merupakan harga sesuatu yang ada di masyarakat setempat maka akan lebih condong ke arah norma-norma, tata krama, aturan adat istiadat, dan sebagainya.

Terkadang nilai tersebut hadir tanpa kita sadari. Nilai sosial seperti norma, tata krama, aturan adat istiadat biasanya mengatur tentang sesuatu yang baik dan buruk di lingkungan masyarakat dan ini juga dapat berupa tradisi secara turun temurun dari nenek moyang, bahkan mungkin hal tersebut juga merupakan budaya masyarakat yang harus tetap dilakukan. Baca entri selengkapnya »